Search This Blog
Thursday, 30 July 2009
Obrolan nyante di chat box yahoo - lawyer
kuta_padma is Available
Me:
Assalamualaikum wr wb
kuta_padma :
heiii
waalaikum salam pak,,
hehhehehee
Me:
Nanya lagi Bung,,,tapi bukan masalah insurance,,,terlalu njlimet,,,dijalanin aja dulu,,
Inget nggak waktu di rumah Ayu malem2,,,aq nanya2 ttg hukum...?
kuta_padma :
enggak deh kyknya tuh dah lamaaaa
Me:
Gpp,,,aku ingetin aja
kuta_padma :
trus?
Me:
Aq pernah dapet jawaban dari dirimu,,,bahwasanya tugas lawyer ntu,,membela client terlepas dari apakah client itu salah ato benar (yg sesungguhnya)
Inget nggak...
Mau mastiin sekali lagi aja,,,
kuta_padma :
truss???
yg mo ditanyain?
Me:
Berarti,,,mmisal nih yaa..? aku nyewa lawyer (padahal jelas2 aku yg salah),,berarti si lawyer itu akan menggunakan kemampuannya supaya aq bisa menang,,,begituyaa..?
kuta_padma :
yuupphh,,tapi semua itu tergantung nurani lawyer
ada yg mau bela meski salah
ada juga yg g mau ngebela kalo salah
tpi tugas klien hrus jujur ke lawyer ttg duduk persoalan
spy lawyer punya strategi bwt menangin kasus
Me:
Nah itu yg aku maksudkan,, persis seperti yg kamu jelasin malem2 ntu.
kuta_padma :
menggunakan kemampuannya supaya kmu bisa menang,,,
memang bgitu
asal kita jujur kita diposisi salah ato benar sekiranya
mang knp na?
kena kasus?
Me:
Padahal kan aktualnya si client salah,,, kalo dibela,,, berarti si lawyer iku ngebelain orang salah yaa...?
kuta_padma :
iyaaa
banyak kan yg begitu
klo g begitu mana ada org yg jahat menang?
buktinya banyak kan kejadian org yg salah dimenangkan?
Me:
Enggak,,,soalnya rekan kerjaku juga lulusan SH,,, rencana aku mo sharing ilmu aja,,tapi belum punya bahan buat diskusi
Naah,,, diliat dari info2 di tipi juga siiih,,, makanya aq inget penjelasanmu dulu,,
Sekali thanks buat infonya. Trus, kamu dah nerusin skul jadi lawyer nggak..?
kuta_padma :
kayaknya enggak deeh
berat di mental n moral
lawyer kalo g berani ambil rsiko dunia akherat susah kaya n sukses nya
mau g mau pasti banyak berhadapan dengan "mafia keadilan"
ogah aah
Me:
Thanks sekali lagi atas sharingnya...
kuta_padma :
pilih hidup tenang,bahagia,damai sejahtera,kaya raya,sukses dunia akhirat mati masuk surga
hahahhahahhaahha
amiiiinnn
Me:
Oh iya,,,aku minta ijin copy penjelasanmu ini yaa...?
kuta_padma :
keeyy
waahhh bayar royalti paak!!!!
Me:
Amiiin....!
kuta_padma :
Me:
Semoga deh,,royaltinya ilmu yg bermanfaat...!
kuta_padma :
amiinn
jd sedekah ya pak?
hehhhehe
Me:
InsyaAllah.....!
kuta_padma :
"power of sedekah"
is amazing!!!
Me:
Nggak diragukan lagi imbalan-Nya
kuta_padma :
hehhehehehe
Begitulah,,,akhirnya aku sudahi chattingnya dengan penambahan wawasan lagi kususnya tentang seorang lawyer. Mohon maaf jika mungkin ada kata2 yg tidak berkenan bagi para pembaca, bukan bermaksud untuk mendiskreditkan suatu posisi, semata2 karena rasa keingintahuan saja.
Terimakasih
Wednesday, 29 July 2009
Demo siang

Alkisah,,,disuatu siang nan sejuk di dalam ruangan kantor ber-ac,,,Mas Yanwar sedang menunjukkan sebuah demo kepada P. Sulaiman dengan sebuah N95 ditangan kanannya,,,maduuu,,di tangan kirinyaaa…ups,,,sorry ngelantur….!
Entah demo apa yg sedang terjadi dan bakalan terulang,,,namun yg pasti secercah senyum kemenangan tersungging dari bibir mas Yan disertai kepuasan bathin dari P. Sulaiman. Bolak-balik dari meja satu ke meja yg lainnya,,masih dengan rasa penasaran saya berusaha mencaritau dengan mengerahkan segala kemampuan,,,dan akhirnya,,,ketemu deh apa yg sedang terjadi,,,,,, ternyata mereka sedang membuat sebuah akun fesbuk…….
Well done buat mas Yan dan P. Sulaiman….! Semoga sesuai dengan yg diharapkan….!
Sunday, 26 July 2009
Kontras Antara ’Tampak Luar’ Dan ’Daleman’ Seseorang
Saya sedang bekendara dengan istri saya ketika sebuah mobil mewah mendahului mobil yang saya kendarai. Karena saya belum mampu memiliki mobil mewah seperti itu, maka secara otomatis mata saya tertuju kepadanya. Mengikuti gerakannya yang seolah bersinar laksana rembulan tengah purnama. Memukau. Dan mengagumkan. Apalagi mobil itu terlihat bersih karena sang pemilik merawatnya dengan baik. Namun, ketika mobil itu tepat berada didepan, saya melihat ada sesuatu yang janggal. Bamper belakangnya tidak ada. Mungkin dicopot dibengkel untuk diperbaiki sehingga sekarang saya bisa melihat ’daleman’ mobil mewah yang selama ini tertutup oleh bamper. Sungguh, body mobil yang tidak tertutup bamper itu tidak terlihat indah. Ternyata, kalau tidak dibungkus dengan ’tampilan luar’ itu, mobil paling mewah sedunia pun tidak terlihat sempurnanya.
Saya menjadi teringat celetukan seseorang yang berbunyi kira-kira begini;”Ngapain aku dengerin omong dia? Wong sama istrinya saja dia cerai kok. Pake khotbah kayak gitu segala.....”
Orang yang seperti teman saya ini tidak hanya satu. Mungkin banyak sekali. Yang meskipun tidak salah untuk bersikap begitu, namun juga tidak sepenuhnya fair. Jika kita mengharapkan seseorang menjadi ’manusia super’ terlebih dahulu sebelum bersedia berbagi sistem nilai dan prinsip-prinsip kebajikan, maka artinya tidak seorangpun didunia ini yang mampu melakukan itu. Dan itu juga berarti bahwa jika kita punya gagasan positif, kita tidak bisa berbagi gagasan itu dengan orang lain sebelum kita bisa menjadi manusia yang benar-benar suci. Oleh karena itu, kita perlu bersikap proposional, rasional, sekaligus realistis. Dengan begitu, kita bisa tetap objektif tanpa harus menutup mata kepada nilai-nilai kebenaran dan keluhuran budi. Dan untuk bisa begitu, kita perlu mengambil langkah sekurang-kurangnya seperti ini:
Pertama, benar-benar bersedia menerima kenyataan bahwa orang lain tidak berbeda dengan kita, dalam konteks sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Berfokus kepada kelebihan untuk dicontoh dan kepada kekurangan untuk dihindari, jauh lebih produktif daripada mempermasalahkan kekurangan seseorang.
Kedua, menghindari terlampau mengidolakan seseorang. Kekaguman secara berlebihan bisa menjebak kita kepada dua kutub ekstrim. Yaitu, kutub tertutupnya mata batin kita, sehingga ketika orang yang terlampau kita idolakan itu terpeleset sedikit saja sudah menjadikan kebencian kita memuncak sepuncak-puncaknya. Sebaliknya, kita juga bisa masuk kekutub ekstrim lain berupa tertutupnya mata lahir kita oleh kezaliman dan keburukan orang yang kita kagumi itu, sehingga kita menjadi terlampau permisif. Itulah sebabnya banyak orang T-O-P-B-G-T yang meskipun melakukan kezaliman tetapi tidak tersentuh oleh hukum negara maupun hukum sosial. Kita menutup mata dengan sikap dan perilaku buruknya. Maka dari itu, kekaguman pada seseorang mestilah ada dalam kadar yang wajar.
Ketiga, perlu dibedakan antara kekurangan seseorang yang bersifat kelemahan manusiawi, dan kejahatan atau kebejatan moral. Seseorang yang ’tercela’ karena ketidakmampuannya atau kelemahannya tetapi masih bisa menjaga kesucian nilai kemanusiaannya adalah gambaran seorang manusia apa adanya. Begitulah manusia. Dia punya kelemahan. Sehingga hendaknya kita tidak memvonis buruk reputasinya, dan menutup mata dan telinga dari kebaikan dan kebijaksanaan yang masih bisa ditebarkannya. Seperti kasus teman saya itu; perceraian seseorang dengan istri atau suaminya tidak serta merta mengisyaratkan dia orang yang buruk.
Berbeda dengan orang-orang yang memang berperilaku buruk, kriminal, dan melanggar norma. Misalnya, seorang sahabat bercerita kepada saya tentang seseorang yang dikenal sangat bijaksana, berbicara tentang moral disana-sini; namun, jika berurusan dengan uang, dia seolah lupa atas semua yang pernah dikatakannya. ”Seolah dia tidak takut lagi pada Tuhan,” begitu kira-kira ungkapannya. Ada juga orang yang bergembar-gembor soal keluhuran moral dan etika, namun diketahui sering bersikap asusila dengan perempuan-perempuan yang bukan muhrimnya. Atau, mereka yang dikenal bijak dan pantas dijadikan tempat berguru tapi ternyata sering menyakiti hati tetangganya dan tidak peduli jika tetangganya itu terganggu oleh ulahnya.
Hal ini semakin menegaskan kepada kita, bahwa seperti mobil mewah tadi; ’daleman’ seseorang tidak selalu semulus dan sekelimis tampilan luarnya. Meski begitu, tidak berarti bahwa kita boleh mencampakkannya begitu saja. Namun, juga tidak berarti kita boleh mentolelir tindakan amoral dan kriminal yag dilakukannya. Ini menegaskan kita bahwa bersikap objektif dan proporsional itu penting. Sehingga, kita tidak kehilangan makna atas keyakinan kita bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Agar kita bisa terus saling belajar, sambil tetap memberi ruang kepada setiap pribadi untuk melakukan kesalahan dalam koridor keterbatasannya sebagai seorang manusia. Dan pada saat yang sama, kita mengatakan ’tidak’ pada kebejatan moral dan perilaku tercela lainnya.
Catatan Kaki:
Ada bedanya antara kelemahan dan kebejatan. Kita boleh menerima kelemahan, namun menolak tindakan dan perilaku buruk yang datang dari hati yang kotor.
Friday, 24 July 2009
Rehat sebentar dari gawean
Asiknya kalo pas istirahat siang,,,,,ditemani dengan sebuah henpon keluaran tercanggih yg bisa menangkap sinyal analog stasiun televisi nasional.
Inilah implementasi dari sebuah konvergensi alat yg bernapa multimedia henpon,,,lumayan bisa untuk melepas penat setengah harian para estimator yg mumet ngitung2 tender terus.
Nih henpon saking canggihnya,,bisa dibuat 2 layarnya,,,kalo yg kecil kurang jelas,,,bisa ngliat yg guede yg dibelakangnya,,,ups,,,sorri,,,salah liat,,ternyata layar yg dibelakangnya ntu adalah layar lcd buat komputer,,,hi,,,hi,,5x.
:-)
Tuesday, 14 July 2009
Bahkan Di Jalan Pun Berserakan Kebijaksanaan
Anda tentu masih ingat dongeng tentang asal muasal persetruan antara semut dan gajah. Konon penyebabnya adalah gara-gara sang gajah suka menginjak semut. Gajah adalah metafor bagi penguasa alias orang-orang besar, sedangkan semut mewakili orang-orang kecil. Kalau diinjak-injak terus, orang kecilpun pada akhirnya akan habis kesabaran, dan kemudian melawan. Namun, tahukah Anda bahwa didunia ini ada 'sesuatu' yang diinjak-injak seberat apapun dia tetap bersabar, dan menjalankan fungsinya dengan baik. Dia tidak tersinggung sekalipun ditempatkan lebih rendah dari alas kaki kita. Dilindas, dan dilibas. Dia tetap saja tersenyum, dan tidak henti-hentinya memberikan panduan. Anda tahu siapakah yang memiliki sifat seperti itu? Anda benar. Dia adalah 'marka jalan'.
Sekarang, mari kita bayangkan seandainya kita berkendara dijalan raya yang tidak memiliki garis putih marka yang membatasi lajur kiri dengan lajur kanan. Sangat beresiko, bukan? Apalagi jika perjalanan itu ditempuh dimalam hari. Kita akan sangat membutuhkan marka jalan. Jika tidak ada marka jalan, kita menjadi gamang. Jika terlalu kekiri, kita bisa terperosok kejurang. Tapi, kalau terlampau kekanan, kita bisa bertabrakan dengan kendaraan dari arah depan. Namun, karena ada marka jalan itu; kita bisa berkendara dengan tertib dan aman. Oleh sebab itu, orang yang ingin selamat dalam perjalanan mesti mematuhi aturan yang diwakili oleh marka jalan itu.
Dikantor pun, ada 'marka' yang harus kita patuhi. Yaitu, aturan-aturan yang jika kita semua mengikutinya, maka kita akan bisa menjadi karyawan yang hebat. Contoh sederhana dari aturan dikantor yang pantas kita ikuti adalah etika masuk kerja. Tidak ada kantor yang menghendaki kita masuk dan keluar dengan sesuka hati. Sehingga jika kita tidak mematuhinya, maka kita tidak termasuk karyawan hebat itu. Kadang-kadang kita berkilah; 'yang penting pekerjaan saya kan selesai'. Benar, tugas kita adalah menyelesaikan pekerjaan kita. Namun, bekerja sama sekali bukanlah sekedar menyelesaikan pekerjaan. Sebab, ada aspek lain yang menuntut komitmen kita, semisal; kualitas dari pekerjaan yang kita selesaikan. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Juga dampak yang ditimbulkannya kepada departemen atau orang lain atas apa yang kita kerjakan.
Meskipun selesai, tetapi jika pekerjaan orang lain tertunda hanya karena kita terlambat menyelesaikan bagian kita; maka kualitas pencapaian secara keseluruhan menjadi rendah. Lagipula, orang-orang yang merasa puas hanya dengan 'menyelesaikan' pekerjaannya tidak bisa menjadi karyawan hebat. Mengapa? Karena sekedar menyelesaikan pekerjaan standar tidak menjadikan dia unggul. Selain itu, karyawan hebat mesti pantas untuk diteladani. Bagaimana kita menjadi teladan jika tidak berdisiplin?
Jika kita perhatikan, marka jalan diatas aspal itu ada beragam macam. Ada yang berupa garis terputus-putus, dan ada juga garis yang tidak terputus. Kita boleh melewati garis yang terputus, misalnya saat hendak menyelip kendaraan lain. Tapi, garis yang konsisten tidak boleh dilewati. Sama seperti hidup kita; ada hal-hal yang boleh kita lakukan dan ada hal-hal yang sama sekali tidak pantas kita lakukan. Orang-orang yang melintasi garis tak terputus sama saja mempertaruhkan keselamatan perjalanannya. Orang-orang yang melakukan sesuatu yang tidak pantas sama artinya mempertaruhkan kehormatan mereka. Itulah sebabnya mereka yang ingin selamat diperjalanan selalu menahan diri untuk tidak melanggar garis tak terputus itu. Dan orang-orang yang ingin hidupnya selamat menahan diri dari melakukan perbuatan-perbuatan tak senonoh.
Memang, kadang-kadang kita sangat membenci aturan. Kita ingin hidup sesuka hati tanpa aturan. Tetapi, jika setiap orang boleh melakukan apapun yang diinginkannya, mau jadi seperti apa kehidupan ini? Seseorang boleh mengambil milik orang lain, jika dia berani. Dan orang yang merasa terampas haknya boleh membalas, jika dia punya kekuatan. Maka lingkungan kita akan menjadi arena sikut-sikutan. Dan jadilah dunia kita penuh dendam dan pembalasan. Bukankah kita tidak menginginkan kehidupan seperti itu?
Pendek kata, kita memang membutuhkan aturan dalam hidup. Jika kita ingin selamat; sebaiknya memang kita mematuhi aturan yang berlaku. Baik aturan dijalan raya. Aturan dikantor. Terlebih lagi aturan yang digariskan oleh Tuhan. Aturan dijalan raya memperbesar peluang kita untuk mendapatkan keselamatan selama di perjalanan. Aturan dikantor dan tempat kerja memperbesar peluang kita untuk bisa membangun karir dan prestasi tinggi. Sedangkan aturan dari Tuhan memperbesar peluang kita untuk selamat didunia dan diakhirat.
Catatan Kaki:
Satu-satunya cara untuk menjamin keselamatan hidup kita adalah dengan mematuhi marka jalan kehidupan yang telah Tuhan sampaikan melalui para nabi dan rasul-rasulnya.
Friday, 10 July 2009
Melampaui Keserakahan Seekor Nyamuk
Dipenghujung musim hujan, para nyamuk menggeliat bangun. Sehingga, pada masa-masa awal musim kemarau seperti saat ini dirumah saya sudah mulai beterbangan mahluk haus darah itu. Jika sudah begitu, ketenangan malam-malam kami menjadi terusik. Kami sering dibuat tidak berdaya untuk menangkis serangan-serangan udara layaknya pesawat tempur canggih yang menggempur pemukiman penduduk yang tak berdaya. Hebatnya lagi, nyamuk jaman sekarang sudah semakin canggih melakukan manuver sehingga jangan harap bisa menepuknya ketika dia terbang. Bahkan, ketika dia menggigitpun tingkat kewaspadaannya tetap tinggi. Jadi, saat kita menepuk, dia cepat-cepat terbang lagi. Nyamuk lolos, malah paha kita yang terasa pedas karena terkena pukulan sendiri.
Tapi, tentu Anda tahu bahwa ada ’saat dimana kita bisa menangkap’ nyamuk dengan amat sangat mudah. Yaitu, ketika nyamuk sedang kekenyangan. Ketika kenyang, nyamuk tidak bisa terbang. Boro-boro terbang, untuk sekedar bergerak saja sudah sulit. Sehingga, kita bisa menepuknya dengan teramat gampang.
Setiap kali saya mendapati nyamuk kekenyangan seperti itu saya selalu memiliki dua perasaan yang bercampur baur. Pertama, perasaan puas, karena anda tahulah apa yang saya lakukan kepada nyamuk yang telah menyakiti anak-anak saya yang tengah tertidur pulas itu. Kedua perasaan miris. Miris? Iya. Karena saya melihat sifat nyamuk itu didalam diri saya. Setelah saya memikirkan dalam-dalam, ternyata bukan hanya nyamuk yang memiliki sifat serakah, tetapi juga manusia. Bahkan, mungkin manusia lebih serakah dari nyamuk. Nyamuk memang serakah. Tetapi, yang dia ambil hanya sebatas memenuhi isi perutnya. Tetapi, keberhasilan manusia untuk memenuhi seluruh rongga perutnya tidak akan pernah berhasil menghentikan hasratnya untuk ’mengambil lebih banyak’ lagi. Sebab, selain memiliki rongga perut untuk menyimpan, manusia juga memiliki bank, surat berharga, emas batangan, dan berbagai macam bentuk penyimpanan lainnya. Karena kapasitas tempat penyimpanan itu nyaris
tidak terbatas, maka cocoklah dengan sifat rakus manusia yang tidak kenal batas ini.
Seandainya nyamuk itu tidak mengumbar nafsu serakahnya, misalnya dengan menghisap darah secukupnya saja, mungkin dia akan tetap bisa menyelamatkan diri. Tetapi, keserakahan telah menjadikan dirinya terlampau bernafsu untuk mengambil sebanyak-banyaknya sehingga perutnya kepenuhan. Dan karenanya dia menjadi tidak berdaya. Kita sudah melihat begitu banyak bukti bahwa manusia-manusia yang serakah seringkali pada akhirnya harus berhadapan dengan hukum, dan bermuara dibalik jeruji penjara. Jika pun mereka bisa meloloskan diri, mereka harus berpura-pura menjadi manusia terhormat, padahal namanya terpampang dalam DPO alias daftar pencarian orang dengan titel buronan.
Sungguh beruntung bagi sang nyamuk. Sebab, dia hanya berurusan dengan dunia. Sedangkan manusia? Selain dunia, kita memiliki urusan dengan akhirat. Jika nyamuk serakah mati, maka mati pulalah semua ’dosa’ yang pernah diperbuatnya. Namun, jika manusia mati, maka abadilah ’semua amal perbuatannya’. Jika amal itu baik, maka kebaikan itu akan menjadi bekal kehidupan sesudah kematiannya. Namun, jika amal perbuatannya itu berupa keburukan; akan tetap menjadi beban bagi kehidupan keduanya kelak. Padahal, hidup kelak beda dengan hidup kini. Kini, uang bisa menjadi hakim pengganti hukum. Namun nanti, uang tidak bernilai lagi.
Tiba-tiba saja saya merasa beruntung karena ’tidak memiliki kesempatan’ untuk melampiaskan semua bentuk keserakahan itu. Saya bersyukur karenanya. Sebab, seandainya saja saya mendapatkan kesempatan itu; mungkin saya tidak akan mampu mengendalikan nafsu serakah ini. Tetapi, saya juga merasa miris lagi. Karena, meski tidak seserakah itu; saya masih memiliki bibit keserakahan dihati ini. Sehingga, kadang-kadang saya begitu egoisnya sampai berani mengabaikan kepentingan orang lain.
Hari ini, saya belajar sesuatu dari sang nyamuk. Bahwa jikapun kita harus mengambil, maka kita hanya berhak mengambil sesuai dengan hak kita. Yaitu sejumlah kadar kepantasan tertentu. Jika kita mengambil melebihi tingkat kepantasan itu, maka kita telah berubah menjadi mahluk yang lebih rendah dari sang nyamuk. Sebab, keserakahan nyamuk dibatasi oleh ukuran perutnya. Sedangkan keserakahan kita, hanya dibatasi oleh kematian. Sifat serakah kita tidak mati sebelum kita sendiri yang mati. Sementara dalam serakahnya itu, sang nyamuk mati dalam seluruh kebaikan hidup. Sebab, ketika dia mati, dia datang menghadap Tuhan. Lalu dia katakan; ”Tuhan, saya sudah menunaikan tugas yang Engkau perintahkan.” Maka malaikat yang mendampinginya berkata;”Tuhanku, sesungguhnya kami menyaksikan hambamu ini menunaikan tugasnya seperti yang Engkau perintahkan....”
Lalu batin saya bertanya kepada sang malaikat. ”Wahai Malaikat suci, apakah sesungguhnya tugas yang Tuhan berikan kepada sang nyamuk itu?” Balas malaikat:”Tuhan menugaskan nyamuk untuk memberikan pelajaran kepada umat manusia, agar mereka menghindari sifat serakah dan berlebih-lebihan.....” Lalu pagi itu, saya terbangun dengan beberapa ekor nyamuk yang gemuk. Saya kesal karena dia telah mengambil darah dari tubuh ini. Namun, saya juga kagum kepadanya. Karena demi menjalankan perintah Tuhan, dia rela untuk mengorbankan dirinya. Sehingga para manusia, bisa menarik pelajaran penting darinya....
Catatan Kaki:
Memberi adalah membuka kesempatan bagi orang lain untuk menerima. Sedangkan menerima adalah membuka kesempatan bagi orang lain untuk memberi. Karenanya, kesediaan untuk memberi dan menerima menghindarkan kita dari keserakahan.
Thursday, 25 June 2009
Ketika Derita Mengabadikan Cinta
"Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan. .."
Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.
Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu.
Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu...
Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu'ala Rasulillah, amma ba'du. Sebelumnya saya mohon ma'af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita...
Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah lumpurnya.
Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.
Tiga puluh tahun yang lalu ...
Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan "Pasha" yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma'adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini.
Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau kalangan high class yang sepadan!
Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.
Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.
Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah.
"Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas ayah.
Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.
Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.
Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.
Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.
Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas yang ada di dekatnya.. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!
Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.
Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang cukur....tukang cukur, ya... sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.
Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar? Dengan enteng ayah menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Ganzouri."
Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.
Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.
Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.
Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.
Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?
Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma'dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma'dzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari'ah mengikuti mahzab imam Hanafi. Ketika Ma'dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah."
Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir. Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma'dzun.
Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!
Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami.
"Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini. Maafkan Kanda!"
"Tidak... Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini. Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru.
Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita saat ini," jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.
Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.
Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.
Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang murah.
Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.
Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.
Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan.
Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu saja... tak lebih.
Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta. Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT.
Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga. Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya.
Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur'an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi'ah Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan.
Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang bilang tanpa disengaja,"Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya."
Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan- pertolongan mereka.
Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.
Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman, "Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan Pasha."
Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.
Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.
Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.
Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.
Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan isteri tercinta.
Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT.
Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan.. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia & lepas dari belenggu derita:
Sambil menatap kaki langit
Kukatakan kepadanya
Di sana... di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba
Bukan karna ketiadaan kata-kata
Tapi karena kupu-kupu kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku... besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung
Yah... saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program Magister bersama!
"Gila... ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak...ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:
"Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita."
Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.
Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran.
Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.
Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.
Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.
Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya.
Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.
Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.
"Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang..." bisiknya mesra sambil tersenyum.
Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.
Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami.
Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.
Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang 'edan'. Ia kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:
"Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di London.. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan."
Kucium kening istriku, dan bismillah... kami berangkat ke London. Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung.
Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas.
Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.
Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.
Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah swt dan bertambahlan rasa cinta kami.
Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan.. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz..."
Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.