Search This Blog
Monday, 29 March 2010
Kapan Harus Membuka Dan Menutup Pintu Hati Kita?
Ketika tiba di rumah sore itu, saya mendapati sebuah kejanggalan. Pintu kamar saya tidak berdiri tegak sebagaimana biasanya. Jadi, pasti ada sesuatu dengan pintu itu. Benar saja. Tiang kusen tempat lazimnya sang pintu menempel jebol. Bagaimana bisa begitu? Ternyata bagian dalam tiang kusen itu keropos digerogoti oleh rayap. Padahal bagian luarnya terlihat baik-baik saja. Sama sekali tidak menujukkan kalau tiang kusen itu sedang menderita ’luka dalam’ yang begitu serius. Gara-gara kejadian itu, pintu kamar kami tidak bisa ditutup sampai seorang tukang kayu tuntas memperbaikinya dua hari kemudian.
Selama pintu kamar itu tidak bisa ditutup, saya bertanya dalam hati; mengapa sih pintu harus ditutup? Tanpa kita sadari, keberadaan pintu merupakan wujud ekspresi bahwa pada dasarnya kita tidak ingin sembarangan orang memasuki rumah atau ruangan-ruangan khusus yang kita miliki. Pendek kata, pintu merupakan bagian dari proses pertahanan diri yang sangat kita andalkan. Ini berlaku dalam pengertian fisik, maupun mental. Bayangkan saja, seandainya kita tidak bisa menutup pintu rumah kita. Sembarangan orang bisa lalu lalang melintasinya. Padahal, tidak semua orang memiliki itikad yang baik ketika memasuki rumah orang lain. Dalam konteks abstrak, pintu hati memainkan peranan untuk mencegah agar segala sesuatu yang kurang berkenan bagi kita tidak bisa memasuki relung hati. Jika kita tidak pernah menutupnya, maka segala sesuatu bisa memasukinya tanpa kendali. Maka, jadilah kita orang yang terombang-ambing oleh sistem nilai apapun yang datang dari luar. Padahal, belum tentu segala hal yang datang dari luar itu baik adanya bagi kita. Jika pengaruh dari luar itu malah menyakiti hati kita, mengapa kita mesti mengijinkannya masuk juga?
Bagaimana jika pintu rumah kita sama sekali tidak bisa dibuka? Tentu bukan kepatuhan semacam itu yang kita harapkan dari sang pintu. Sebab, meskipun pintu itu harus cukup tangguh untuk mencegah masuknya orang-orang yang tidak berkepentingan; dia juga harus sigap untuk membuka saat orang-orang yang pantas masuk membutuhkan akses. Persis seperti jiwa kita. Meskipun kita tidak ingin sistem nilai sembarangan masuk kedalamnya, tetapi ada banyak hal lain yang justru harus masuk kedalam sanubari kita. Karena, ada banyak penyemangat hidup dari luar yang bisa membesarkan hati. Dan ada banyak sistem nilai yang patut kita adopsi. Jika pintu hati kita juga tetap tertutup untuk hal-hal positif semacam itu, maka kita tidak akan pernah bisa meningkatkan nilai hidup.
Pertanyaannya sekarang adalah; bagaimana seandainya pintu rumah kita hanya terbuka bagi orang-orang yang berniat buruk, dan tertutup bagi orang-orang yang berniat baik? Tentu rumah kita akan menjadi tempat pertemuan para penjahat. Tidak mustahil jika kemudian para penjahat itu malah bersarang didalam rumah. Sehingga, cepat atau lambat kita juga akan berubah ikut menjadi jahat. Jika kita tidak ingin terlibat menjadi jahat, kita harus segera minggat. Padahal, itu rumah kita lho. Pertanyaan selanjutnya adalah; bagaimana seandainya pintu hati hanya terbuka bagi sistem nilai yang buruk, dan tertutup bagi nilai-nilai yang baik? Bukankah lama kelamaan hati kita akan menjadi sarang bagi biang dari segala keburukan? Padahal, kita bisa minggat dari rumah kita; tapi tidak bisa lari dari hati kita.
Ya. Ini cuma sekedar teori. Tetapi, mari kita coba melihat realitasnya sehari-hari. Mulailah dengan menanyakan kepada diri sendiri; apakah kita dapat dengan mudah menerima nasihat-nasihat baik, dan sulit untuk menerima sentimen-sentimen atau hasutan negatif? Jika demikian, pasti pintu hati kita berfungsi dengan baik. Ketika hati kita dipenuhi oleh niat baik, perilaku kita juga akan semakin baik. Pertanyaan sebaliknya; apakah kita lebih mudah menerima energi negatif, dan sering mengabaikan bunyi-bunyi kecil yang mengalunkan himbauan bisik suci? Jika demikian, pastilah pintu hati kita tidak berfungsi dengan baik. Ketika hati kita dipenuhi oleh niat buruk, sikap dan perilaku kita juga akan semakin buruk.
Pintu hati juga berperan dalam menyeleksi energi positif dan energi negatif. Contoh ekstrimnya begini. Jika ada orang yang menampar Anda. Setelah itu, dia memberi Anda uang satu juta rupiah. Mana yang akan anda ingat paling lama; tamparannya dipipi anda, atau uang satu juta rupiah yang diberikannya? Jika atasan anda memberikan pekerjaan yang sangat berat, serta menuntut anda dengan tugas menyebalkan ini-itu . Lalu, diakhir tahun anda mendapatkan kenaikan gaji double digit. Anda lebih mengingat ’perlakuan menyebalkan’ dari atasan anda atau kenaikan gaji Anda yang sudah susah payah diperjuangkannya kepada managament?
Jika kita dikecewakan oleh seseorang, kita sering terus mengingat kekecewaan itu sepanjang hidup kita. Tetapi, jika seseorang melakukan kebaikan pada kita, maka kita dapat melupakan kebaikan orang itu hanya dalam hitungan hari saja. Kita sering lupa bahwa seseorang telah berbuat baik pada kita. Kita lebih sering menerima sugesti berisi komplain kepada pekerjaan daripada berucap syukur sekalian mengatakan; ”Tuhan, terimakasih bulan ini Engkau telah kembali memberi kami rezeki yang halal lagi baik.” Kita lebih mudah mengingat peristiwa-peristwa yang mengecewakan di kantor daripada pelajaran-pelajaran penting yang kita peroleh dari ruang-ruang training.
Begitu banyak bukti yang menunjukkan bahwa kita sering keliru memerintahkan sang pintu hati untuk membuka dan menutup. Seharusnya, pintu hati kita tertutup untuk sifat dendam sehingga kita bisa menjadi manusia pemaaf. Kita boleh terus mengingat perilaku buruk orang lain kepada kita. Tujuannya, untuk menjaga diri agar jangan sampai orang itu dapat dengan mudah memperlakukan kita tanpa sopan santun dan kepantasan tindakan. Bukan untuk memelihara dendam. Sebab, ketika kita memeliharan dendam; seolah kita tidak percaya bahwa Tuhan akan memberikan balasan yang sepadan.
Seharusnya, pintu hati kita terbuka kepada nilai-nilai kebaikan sehingga semakin hari, kita bisa menjadi manusia yang semakin baik. Kita boleh mengambil sebanyak mungkin sistem nilai yang baik. Sehingga kita mempunyai begitu banyak referensi untuk menjadikan jiwa kita semakin baik. Tujuannya, untuk memberi diri kita berbagai alternatif sehingga semakin mudah untuk melakukan kebaikan. Jika kita tidak bisa melakukan kebaikan yang ini, masih ada refensi kebaikan lain yang itu. Jika kita tidak bisa membantu dengan materi, misalnya; maka kita bisa meringankan dengan kalimat-kalimat penghiburan.
Apakah ada orang yang menutup pintu hatinya untuk hal-hal positif? Banyak. Bahkan, bisa jadi kita juga demikian. Buktinya, betapa sering kita mencibir saat seseorang menyeru kita untuk menjauhi sifat curang? Betapa seringnya kita mengabaikan hibauan untuk menjalankan amanah yang kita emban dengan sebaik-baiknya, bukan malah mengkhianatinya. Dan betapa banyak pelajaran berharga yang disampaikan oleh seorang teman, namun kita meresponnya dengan mengatakan; ’apa urusan elu?’
Selama dua hari itu, kami tidak bisa leluasa melakukan aktivitas didalam kamar. Saat itu, seolah kami tengah disadarkan bahwa pintu merupakan sebuah komponen penting dalam hidup kita. Karena pintu bisa mencegah masuknya nilai-nilai buruk kedalam diri kita. Dan pintu harus mampu menjadi akses sesuatu yang baik untuk kebaikan hidup kita. Dengan kata lain, pintu hati kita harus bisa terbuka untuk memberi jalan masuknya kebaikan kedalam hati, sekaligus menjadi jalur pembuangan sifat-sifat buruk yang kita miliki. Lebih dari itu, pintu hati kita juga harus bisa kita tutup supaya tidak sembarangan sistem nilai buruk mempengaruhi diri kita. Sekaligus menjaga agar jangan sampai sifat-sifat baik yang kita miliki berceceran.
Apakah sifat baik kita bisa berceceran? Bisa. Karena, setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Itulah sebabnya, sewaktu masih kecil; kita semua adalah manusia-manusia yang berhati tulus. Berpandangan positif. Berpikiran jernih. Berniat baik. Namun, setelah beranjak dewasa kita sering bertingkah sebaliknya. Seolah kita tidak pernah memiliki sifat-sifat baik itu dimasa lalu. Padahal, seperti yang pernah disampaikan oleh guru mengaji saya sewaktu kecil;”Tuhan telah mengilhamkan kepada setiap jiwa nilai-nilai kebaikan dan keburukan. Beruntunglah orang yang mensucikannya. Dan merugilah orang-orang yang mengotorinya.” Bersih dan kotornya jiwa seseorang sangat ditentukan oleh baik dan buruknya sesuatu yang keluar masuk kedalam hatinya. Sedangkan baik atau buruknya sesuatu yang masuk kedalam hati seseorang, sangat ditentukan oleh fungsi pintu hatinya.
Catatan Kaki:
Membuka pintu hati agar hal-hal baik bisa masuk sama pentingnya dengan membukanya untuk membuat sifat-sifat buruk keluar darinya
Sunday, 24 January 2010
Odol dari surga
Kisah nyata dari seseorang yang dalam episode hidupnya sempat ia lewati dalam penjara. Bermula dari hal yang sepele. Lelaki itu kehabisan odol dipenjara. Malam itu adalah malam terakhir bagi odol diatas sikat giginya. Tidak ada sedikitpun odol yang tersisa untuk esok hari. Dan ini jelas-jelas sangat menyebalkan. Istri yang telat berkunjung, anak-anak yang melupakannya dan diabaikan oleh para sahabat, muncul menjadi kambing hitam yang sangat menjengkelkan. Sekonyong-konyong lelaki itu merasa sendirian, bahkan lebih dari itu : tidak berharga ! Tertutup bayangan hitam yang kian membesar dan menelan dirinya itu, tiba-tiba saja pikiran nakal dan iseng muncul. Bagaimana jika ia meminta odol pada TUHAN ?
Berdoa untuk sebuah kesembuhan sudah berkali-kali kita dengar mendapatkan jawaban dari-NYA . Meminta dibukakan jalan keluar dari setumpuk permasalahanpun bukan suatu yang asing bagi kita. Begitu pula dengan doa-doa kepada orang tua yang telah berpulang, terdengar sangat gagah untuk diucapkan. Tetapi meminta odol kepada Sang Pencipta jutaan bintang gemintang dan ribuan galaksi, tentunya harus dipikirkan berulang-ulang kali sebelum diutarakan. Sesuatu yang sepele dan mungkin tidak pada tempatnya. Tetapi apa daya, tidak punya odol untuk esok hari –entah sampai berapa hari- menjengkelkan hatinya amat sangat. Amat tidak penting bagi orang lain, tetapi sangat penting bagi dirinya.
Maka dengan tekad bulat dan hati yang dikuat-kuatkan dari rasa malu, lelaki itu memutuskan untuk mengucapkan doa yang ia sendiri anggap gila itu. Ia berdiri ragu-ragu dipojok ruangan sel penjara, dalam temaram cahaya, sehingga tidak akan ada orang yang mengamati apa yang ia lakukan. Kemudian dengan cepat, bibirnya berbisik : "TUHAN, Kau mengetahuinya aku sangat membutuhkan benda itu". Doa selesai. Wajah lelaki itu tampak memerah. Terlalu malu bibirnya mengucapkan kata amin. Dan peristiwa itu berlalu demikian cepat, hingga lebih mirip dengan seseorang yang berludah ditempat tersembunyi. Tetapi walaupun demikian ia tidak dapat begitu saja melupakan insiden tersebut. Sore hari diucapkan, permintaan itu menggelisahkannya hingga malam menjelang tidur. Akhirnya, lelaki itu –walau dengan bersusah payah- mampu melupakan doa sekaligus odolnya itu.
Tepat tengah malam, ia terjaga oleh sebuah keributan besar dikamar selnya.
"Saya tidak bersalah Pak !!!", teriak seorang lelaki gemuk dengan buntalan tas besar dipundak, dipaksa petugas masuk kekamarnya," Demi TUHAN Pak !!! Saya tidak salah !!! Tolong Pak…Saya jangan dimasukin kesini Paaaaaaaaak..!!!"
Sejenak ruangan penjara itu gaduh oleh teriakan ketakutan dari 'tamu baru' itu.
"Diam !!", bentak sang petugas,"Semua orang yang masuk keruangan penjara selalu meneriakkan hal yang sama !! Jangan harap kami bisa tertipu !!!!"
"Tapi Pak…Sssa.."
Brrrraaaaang !!!!
Pintu kamar itu pun dikunci dengan kasar. Petugas itu meninggalkan lelaki gemuk dan buntalan besarnya itu yang masih menangis ketakutan.
Karena iba, lelaki penghuni penjara itupun menghampiri teman barunya. Menghibur sebisanya dan menenangkan hati lelaki gemuk itu. Akhirnya tangisan mereda, dan karena lelah dan rasa kantuk mereka berdua pun kembali tertidur pulas.
Pagi harinya, lelaki penghuni penjara itu terbangun karena kaget. Kali ini karena bunyi tiang besi yang sengaja dibunyikan oleh petugas. Ia terbangun dan menemukan dirinyanya berada sendirian dalam sel penjara. Lho mana Si Gemuk, pikirnya. Apa tadi malam aku bemimpi ? Ah masa iya, mimpi itu begitu nyata ?? Aku yakin ia disini tadi malam.
"Dia bilang itu buat kamu !!", kata petugas sambil menunjuk ke buntalan tas dipojok ruangan. Lelaki itu segera menoleh dan segera menemukan benda yang dimaksudkan oleh petugas. Serta merta ia tahu bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.
"Sekarang dia dimana Pak ?", tanyanya heran.
"Ooh..dia sudah kami bebaskan, dini hari tadi…biasa salah tangkap !", jawab petugas itu enteng, "saking senangnya orang itu bilang tas dan segala isinya itu buat kamu".
Petugas pun ngeloyor pergi.
Lelaki itu masih ternganga beberapa saat, lalu segera berlari kepojok ruangan sekedar ingin memeriksa tas yang ditinggalkan Si Gemuk untuknya.
Tiba-tiba saja lututnya terasa lemas. Tak sanggup ia berdiri. "Ya..TUHAAANNN !!!!", laki-laki itu mengerang. Ia tersungkur dipojok ruangan, dengan tangan gemetar dan wajah basah oleh air mata. Lelaki itu bersujud disana, dalam kegelapan sambil menangis tersedu-sedu. Disampingnya tergeletak tas yang tampak terbuka dan beberapa isinya berhamburan keluar. Dan tampaklah lima kotak odol, sebuah sikat gigi baru, dua buah sabun mandi, tiga botol sampo, dan beberapa helai pakaian sehari-hari.
Kisah tersebut sungguh-sunguh kisah nyata. Sungguh-sungguh pernah terjadi. Dan aku mendengarnya langsung dari orang yang mengalami hal itu. Semoga semua ini dapat menjadi tambahan bekal ketika kita meneruskan berjalan menempuh kehidupan kita masing-masing. Jadi suatu ketika, saat kita merasa jalan dihadapan kita seolah terputus. Sementara harapan seakan menguap diganti deru ketakutan, kebimbangan dan putus asa.
Pada saat seperti itu ada baiknya kita mengingat sungguh-sungguh bahkan Odol pun akan dikirimkan oleh Surga bagi siapapun yang membutuhkannya. Apalagi jika kita meminta sesuatu yang mulia. Sesuatu yang memuliakan harkat manusia dan DIA yang menciptakan kita.
Seperti kata seorang bijak dalam sebuah buku : "Seandainya saja engkau mengetahui betapa dirimu dicintai-NYA, hati mu akan berpesta pora setiap saat"
Monday, 4 January 2010
Melirik Kemasa Silam, Menatap Kemasa Depan
Saya sedang mencari alamat didaerah yang agak asing ketika tiba-tiba saja sebuah mobil melesat kencang dari arah depan. Dalam hitungan sepersekian detik sejak saya melihatnya, tiba-tiba mobil itu menghantam kaca spion sebelah kanan saya dengan suara yang mengejutkan. Dan setelah bunyi keras itu, kaca spion kami tidak lagi berada ditempatnya. Saya menepi dan berhenti. Namun, mobil yang menabrak itu terus melaju dalam kecepatan tinggi. Sementara ditengah jalan, kaca spion mobil kami tergolek pasrah terpecah-pecah.
Saya tidak menyukai apa yang terjadi. Namun, tidak ada gunanya mengejar mobil yang kabur itu. Jadi, saya memutuskan untuk meneruskan perjalanan; tanpa kaca spion. Sungguh, saya tidak pernah benar-benar menyadari betapa bernilainya keberadaan sebuah kaca spion sebelum kejadian itu. Tiba-tiba saja, saya menyadari betapa pentingnya benda kecil itu. Karena, meskipun ukurannya kecil, namun kaca spion membantu kita melihat ke belakang. Yaitu, ke area yang tidak mungkin kita jangkau dengan memalingkan muka kearahnya. Bayangkan seandainya saat menyetir kita memutar leher dan melihat kearah belakang. Tentu sangat membahayakan keselamatan, bukan? Tetapi, dengan bantuan kaca spion yang kecil itu, kita bisa mengetahui situasi dibelakang tanpa harus mengarahkan wajah kita kesana.
Hey, sebentar dulu. Apakah saya berungkali menyebut kaca spion yang 'kecil'? Ah, ya. Faktanya memang ukuran kaca spion sangat kecil dibandingkan dengan kaca-kaca lain dalam mobil. Dengan fakta itu, tiba-tiba saja saya menemukan dua kesadaran. Pertama, secara fisik ukuran kaca spion memang jauh lebih kecil dibandingkan dengan kaca depan mobil kita. Dan kedua, kita tidak melepaskan pandangan kita kearah depan saat melirik kaca spion untuk mengetahui situasi dibelakang. Dan bagi saya, kedua fakta itu mengisyaratkan dua pelajaran yang sangat luar biasa.
Pelajaran pertama; ukuran kaca depan mobil yang lebih besar dari spion mengingatkan kita tentang 'porsi'. Artinya, kita memang harus memberi porsi yang lebih besar terhadap masa depan, bukan ke masa silam yang sudah kita tinggalkan. Kenyataannya, kita sering terjebak dengan masa silam. Sehingga, kita memberi porsi perhatian yang terlampau besar kepada masa silam daripada masa depan. Misalnya, saat menghadapi situasi sulit; kita sering merintih sambil membandingkan situasi ini dengan saat-saat indah dimasa lalu. Sehingga semakin mengingat masa silam, semakin sakit rasanya kesulitan yang tengah kita hadapi saat ini.
Bayangkan seandainya kita lebih banyak melihat kaca spion, dibandingkan dengan kaca depan mobil kita saat berkendara. Mungkin kita lebih sering mengalami kecelakaan daripada selamat sampai tujuan. Barangkali hidup kita juga demikian. Jika kita terlampau banyak mengurung diri dengan kesuksesan dan kegembiraan masa lalu, kita bisa lengah terhadap masa depan. Oleh karena itu, barangkali memang seharusnya kita lebih banyak melihat kedepan daripada bernostalgia dengan kenangan-kenangan masa silam. Jadi, kita tidak terjebak dalam jeratan kisah sentimetil masa silam yang membuat gerak langkah kita terhambat.
Pelajaran kedua; kita tidak melepaskan pandangan kearah depan saat melirik kaca spion. Mari ingat-ingat kembali saat kita berkendara. Kita tidak pernah melihat kaca spion terlampau lama. Bahkan sesungguhnya, kita tidak 'benar-benar' melihat kaca spion itu. Kita hanya meliriknya beberapa detik saja. Dan saat kita meliriknya, kita tidak pernah melepaskan padangan kearah depan. Karena sungguh, mata kita berfokus kearah depan yang menjadi arah laju kendaraan.
Jangan-jangan, hidup kita juga demikian. Kita memang perlu sesekali menengok ke masa silam. Agar kita bisa menarik pelajaran dari pengalaman. Dan terlebih lagi bisa mensyukuri semua anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan. Namun, kita tidak boleh terjebak disana. Karena, roda kehidupan kita tidak berhenti dimasa lalu, melainkan terus melaju kini. Untuk menuju masa depan. Sungguh berbahaya jika kita membiarkan jiwa ini tertinggal di masa lalu. Terbelenggu oleh kenyaman yang telah lampau. Terjerat oleh kenikmatan hari kemarin. Dan terperangkap dalam bayang-bayang pencapaian dimasa silam.
Jika kita merasa perih kini, tidak berarti masa lalu kita jauh lebih baik. Jika kita merasa berat sekarang, tidak serta merta menandakan masa depan kita akan suram. Sebab, seperti tengah mengendari kendaraan; kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi didepan. Namun, selama berkendara itu; kita tidak sedikitpun berpaling dari masa depan. Bahkan, sekalipun kita sedang ingin tahu ada apa dibelakang. Karena, meski kita melirik kaca spion pun, kita tidak pernah melepaskan tatapan kita kearah depan. Sebab, ketika kita memandang kemasa depan; kita tidak lagi terpengaruh oleh apa yang kita tinggalkan. Disepanjang lintasan. Masa silam. Masa silam adalah energi untuk berterimakasih kepada Tuhan. Sedangkan masa depan adalah alasan mengapa kepada-Nya; kita menggantungkan harapan.
Catatan Kaki:
Kita tidak akan pernah sampai kemasa depan, jika disepanjang perjalanan; mata kita selalu melihat masa silam.
Wednesday, 23 December 2009
Masih Adakah Dedikasi Disaat Kantor Sepi?
Masih ingat pepatah 'Kucing pergi, tikus menari' ? Jaman sekarang tubuh tikus hampir seukuran kucing, sehingga kucing tidak lagi berselera mengganggu tikus. Tapi, pepatah itu masih relevan hingga kini. Terlebih lagi, jika dikaitkan dengan prinsip kepemimpinan atau leadership, dan kinerja atau performance. Dalam konteks ini, kita bisa menguji kedua hal diatas ketika Umat Islam merayakan Iedul Fitri, atau saat Kaum Kristiani merayakan Natal. Tahukah anda mengapa demikian? Karena, itu adalah saat-saat dimana para atasan dan kolega pergi liburan. Walhasil, suasana kantor menjadi sunyi senyap. Lantas, apakah disaat senyap seperti itu kinerja anda naik dan menjadi lebih baik, atau malah turun menukik?
Seorang karyawan terlihat sibuk didepan komputernya dengan tampang yang serius. Mungkinkah dia termasuk karyawan yang sungguh-sungguh dalam bekerja? Kelihatannya sih demikian. Namun, ketika karyawan itu menyadari bahwa atasannya berdiri tepat dibelakangnya, dan melihat seluruh tampilan dilayar komputernya; mendadak wajah karyawan itu berubah menjadi pucat pasi. Pada kesempatan lain, seorang karyawan buru-buru menutup layar monitor laptopnya ketika boss besar memasuki ruang rapat. Kita tentu mafhum; mengapa seseorang tidak ingin atasannya mengetahui apa yang sedang dilakukannya.
Kedua peristiwa yang saya ceritakan diatas bukan kisah rekaan semata. Dan itu sudah cukup menggambarkan betapa banyak orang yang tidak sungguh-sungguh bekerja pada saat seharusnya mereka bekerja. Jika saat para atasan berada dikantor saja banyak karyawan yang tidak sungguh-sungguh bekerja, maka bisa dibayangkan betapa banyak karyawan yang menyia-nyiakan amanah seperti itu disaat musim libur panjang tiba?
Padahal, salah satu ciri karyawan yang baik adalah; bekerja dengan sungguh-sungguh meski tidak seorangpun mengawasinya. Oleh karena itu, kita bisa mengukur apakah kita ini karyawan yang baik atau bukan justru pada saat atasan kita tidak berada di tempat. Dengan kata lain, musim libur panjang seperti Iedul Fitri dan Natal adalah saat yang tepat untuk membuktikan kualitas diri kita sebagai seorang profesional.
Sewaktu saya masih kecil, guru mengaji saya menceritakan kisah tentang seorang anak yang tengah menggembalakan kambing yang jumlahnya banyak sekali. Suatu hari seorang lelaki tak dikenal menghampirinya, dan berkata; "Nak, jual satu ekor kambingmu itu kepadaku." Sambil dikeluarkannya uang dari dalam saku.
"Maaf Tuan, kambing-kambing ini bukan milik saya. Jadi tidak akan saya jual." sahut anak itu.
"Sudahlah, Nak. Jumlah kambing itu sangat banyak. Majikanmu tidak akan tahu kalau berkurang satu." Orang itu meyakinkan.
"Benar Tuan. Majikanku tidak akan tahu kalau beberapa ekor kambing yang kugembalakan ini hilang." Sahutnya. "Tetapi Tuan," lanjutnya. "Tuhanku Yang Maha Melihat senantiasa memperhatikan semua yang aku lakukan ketika menggembalakan kambing-kambing ini."
Lelaki pendatang itu tertegun sesaat. Lalu memeluknya erat. Dan berkata;"Kamu benar anakku. Tidak ada satu tempatpun dimuka bumi ini yang tidak terlihat oleh Tuhan." Guru ngaji saya mengatakan bahwa lelaki asing itu bernama Umar Bin Khatab. Seorang Khalifah yang gemar menyamar.
Hari ini, kita mendapatkan anugerah yang tak ternilai dalam bentuk pekerjaan yang dipercayakan oleh perusahaan. Dan hari ini, kita mendapatkan pengingat dari gembala kecil itu. Karena, bekerja bukan semata-mata untuk menyenangkan majikan. Bekerja adalah sarana pengabdian kepada Tuhan. Sebab, Tuhan telah menganugerahkan begitu banyak potensi melalui kesempurnaan penciptaan diri kita. Sehingga, menyia-nyiakan amanah dari perusahaan, pada hakekatnya menyia-nyiakan anugerah Tuhan.
Malu kita seandainya diusia yang sudah dewasa seperti ini masih berprinsip untuk bekerja dengan baik hanya jika ada atasan. Bukan malu karena takut ketahuan atasan. Tapi malu bahwa kita selalu diperhatikan oleh Tuhan. Padahal, Tuhan menyediakan pahala untuk setiap perbuatan baik yang kita lakukan. Artinya, jika kita bekerja dengan baik, maka bukan hanya gaji dari perusahaan yang kita dapatkan. Melainkan sesuatu yang nilainya lebih tinggi dari itu. Mengapa? Karena, setinggi apapun gaji yang anda terima; belum tentu sepadan dengan pengorbanan yang anda berikan. Sedangkan imbalan dari Tuhan? Tidak pernah lebih sedikit dari usaha yang kita upayakan. Bahkan, karena Tuhan itu Maha Pemurah; maka Dia menyediakan pahala yang berlipat-lipat. Bagi hamba-hambanya yang bekerja dengan tulus ikhlas. Yaitu, orang-orang yang bekerja bukan karena pengawasan orang lain. Melainkan mereka yang mempersembahkan setiap pekerjaan yang dilakukannya sebagai wujud pengabdian kepada Tuhan.
Catatan Kaki:
Ikhlas itu bukan bersedia bekerja tanpa imbalan. Melainkan mengharapkan keridoan Tuhan, atas setiap tindakan yang kita lakukan
Wednesday, 16 December 2009
Google earth siang-siang
Monday, 14 December 2009
Paku Yang Berserakan Di Jalan
Kalau sedang berjalan kaki, saya sering menemukan paku di jalan. Demikian pula halnya ketika tengah bersepeda. Kehadiran paku dijalan menarik perhatian saya. Karena, saya merasa bahwa jalan bukanlah tempat dimana paku seharusnya berada. Pernah suatu kali kepalan tangan saya tidak lagi bisa dimuati oleh apapun karena didalamnya terdapat segenggam penuh paku yang saya punguti di jalan yang saya lintasi. Sehingga saya harus menyediakan wadah khusus untuk menampung paku-paku itu. Dalam hati saya berbisik;’seandainya semua paku di seluruh jalan di negeri kita dipunguti, berapa ton paku yang bisa dikumpulkan?’
Mungkin saya agak berlebihan soal ’berapa ton’ itu, kalau diartikan sebagai satuan berat ’seribu kiloan’. Tapi, kalau ’ton’ dalam pengertian satuan jumlah ’seribuan’, saya yakin ungkapan ’berapa ton’ itu tidak berlebihan. Artinya, ada ribuan buah paku yang berserakan di jalan. Ketika saya membayangkan beribu-ribu paku yang menghadang kita dijalan, saya juga membayangkan; betapa ban kendaraan kita berada pada situasi yang sangat kritis saat melintasi jalan-jalan itu. Karena, setiap kali kita melintas, maka ada peluang ban kendaraan kita tertusuk paku-paku itu. Anehnya, mengapa tidak semua kendaraan yang melintasi jalan itu bannya bocor terkena paku? Bahkan, dalam setahun saya lalu lalang disana, belum tentu ban kendaraan saya kena paku barang sekalipun. Padahal kita tahu, disana banyak paku berserakan.
Mengingat itu, hati saya sering menjadi lebih terhibur. Mengapa? Karena, seperti jalanan yang berpaku disana-sini itu; kadang-kadang saya melihat jalan hidup ini juga sedemikian beresikonya untuk dilalui. Resiko kehilangan pekerjaan, resiko ditolak oleh pelanggan, resiko dilecehkan teman, resiko disepelekan atasan, resiko tidak memperoleh pendapatan yang sepadan, resiko kebangkrutan, resiko ini, dan resiko itu. Rasanya, kita tidak perlu memungkiri bahwa semua kemungkinan itu sering membuat hati kita ciut. Namun, membayangkan bahwa setiap hari kendaraan kita melintasi jalan yang berpaku; maka setiap hari kita berpeluang untuk mengalami bocor ban di jalan. Anehnya, kita tidak setiap hari mengalami bocor ban.
Menerima fakta itu membantu hati saya untuk menyadari bahwa; meskipun setiap hari kita melintasi jalan kehidupan yang penuh resiko, tapi ternyata kita tidak selamanya mengalami kejadian ’semengerikan’ itu. Mari kita tengok kebelakang barang sejenak. Lima tahun yang lalu, misalnya, kita tidak bisa membayangkan bagaimana caranya menjalani kehidupan selama lima tahun kedepan. Namun, kenyataannya adalah; kita sudah menjalani waktu lima tahun terakhir ini hingga saat ini, dengan ’tanpa terasa’. Hebatnya lagi, ternyata kita baik-baik saja.
Sekarang, mari kita berdiri disebuah titik yang kita sebut sebagai ’saat ini’, lalu memandang jauh kemasa depan. Apakah kita merasakan kegalauan itu? Kita galau karena tidak ada kepastian akan masa depan kita. Tetapi, mari kita tengok beberapa tahun lalu ke belakang ketika kita merasakan kegalauan yang sama. Kita bisa sampai di titik ini, dengan selamat. Oleh karena itu, meski saat ini kita didera galau yang sama ketika memandang masa depan; semoga kita masih memiliki kekuatan untuk meyakini bahwa kita akan berhasil melewati masa depan itu seperti halnya kita telah berhasil melampaui masa lalu kita.
Ngomong-ngomong, menurut pendapat anda; mengapa ban mobil kita jarang bocor meskipun setiap hari melintasi jalan yang berpaku? Mungkinkah itu karena Tuhan melindungi agar ban mobil kita tidak terlampau sering terkena paku? Kalau begitu, menurut pendapat anda; mengapa hidup kita jarang bahkan tidak pernah mengalami peristiwa mengerikan, meskipun setiap saat kita melintasi jalan hidup yang berpeluang untuk mengalami peristiwa-peristiwa mengerikan? Mungkinkah itu karena Tuhan tiada henti-hentinya menjaga diri kita agar tidak mengalami hal-hal mengerikan yang melampaui batas kemampuan kita?
Lebih dari itu, Tuhan telah menjagakan kita agar tidak semua peluang tak menyenangkan itu benar-benar menjadi kenyataan. Memang, kita menghadapi begitu banyak peluang buruk yang tidak kita sukai. Namun, Tuhan telah menebarkan peluang baik jauh lebih banyak dari hal-hal buruk yang mungkin menimpa diri kita. Dan itu cukup untuk membuktikan bahwa sebenarnya Tuhan berpihak kepada kita. Sebab, ketika Dia memberi peluang baik lebih banyak dari peluang buruk, maka sesungguhnya Dia ingin agar kita berkesempatan untuk mendapatkan peluang baik itu.
Jika sampai sekarang hidup kita baik-baik saja; tidak berarti bahwa kita tidak pernah mengalami cobaan, bukan? Kita mengalami banyak cobaan, namun sejauh ini semua cobaan itu masih dalam batas-batas kemampuan kita. Ini cocok dengan penjelasan guru ngaji saya bahwa; ”Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada seseorang, melainkan dalam batas kemampuan dirinya.”
Peluang buruk itu seperti paku yang berserakan dijalan. Jika kita memilih untuk memarkir kendaraan dirumah karena khawatir bannya akan kempes tertusuk paku yang berserakan; maka kita tidak akan pergi kemana-mana. Sebaliknya, jika kita bersedia mengambil resiko itu, maka kita akan mengeluarkan kendaraan dari garasi. Lalu kita melintasi jalan yang seharusnya kita lalui. Meskipun itu berarti bahwa kita menghadapi resiko ban bocor. Namun, kenyataannya ban kita tidak terlampau sering bocor. Bahkan, sekalipun kita melintasi jalan berpaku setiap hari.
Barangkali, jalan hidup kita juga memang demikian. Meskipun banyak resiko yang kita hadapi saat melintasinya; namun, tampaknya kita akan baik-baik saja saat menjalaninya setiap hari. Sehingga, memilih untuk menyingsingkan lengan baju lalu bangkit berdiri, kemudian melangkah menjalani hidup ini; adalah pilihan yang jauh lebih baik daripada menyerah dan berdiam diri. Sebab, saat kita menyerah; kita melewatkan beribu kesempatan dan kemungkinan untuk memperoleh anugerah yang kita sendiri tidak pernah tahu sebesar apa. Sebaliknya, saat kita berserah diri kepada keberpihakan Tuhan terhadap kesuksesan kita, lalu kita memohon ijin kepada-Nya untuk berikhtiar; maka kita memiliki harapan untuk berhasil melintasi perjalanan hidup ini dengan baik. Dan, tanpa terasa; kita bisa tiba diakhir perjalanan yang telah Tuhan tentukan untuk kita. Lalu saat itu kita boleh kerkata; ”Tuhan, telah kutunaikan seluruh panggilan-Mu. Dengan segala kurang dan lebihku. Dan kini, ijinkan aku untuk menyerahkan penilaian akhir kepada-Mu....”
Catatan Kaki:
Sepertiga dari kengerian yang terpampang dimasa depan adalah ilusi kita. Sepertiganya lagi adalah alat untuk meningkatkan ketangguhan kita. Dan sepertiganya lagi adalah pengingat agar kita tidak terlampau sombong dihadapan Tuhan.
Sudahkah Anda Menemukan Garis Horison Kehidupan?
Minggu lalu, saya berkesempatan melihat garis horison dipinggir pantai. Anda tentu masih ingat dengan ’garis horison’, bukan? Garis mendatar yang seolah-olah menjadi pembatas antara bumi dengan langit. Jaman dahulu kala, garis horison disalahartikan sebagai ujung dunia, sehingga jika kita bergerak melewati garis itu, maka kita akan terjatuh ke jurang. Memandang jauh ke tengah laut seolah memandang jauh ke masa depan. Sehingga, dengan pola pikir seperti itu, kita sering beranggapan bahwa hidup kita hanya akan baik-baik saja sampai kita tiba di ’garis ujung’ itu. Dan karena ’garis ujung’ itu adalah batas kemampuan pandangan kita, maka ketika kita memandang hidup; kita sering khawatir atas apa yang akan terjadi ’setelah garis ujung’ itu terlampaui.
Setelah kita memahami bahwa bumi ini bulat, kita tahu bahwa garis horison bukanlah ujung dunia seperti yang kita duga. Jadi, jika kita bergerak melewati garis horison itu, kita tidak akan terjatuh. Kita bisa terus bergerak maju dengan aman dan leluasa. Selain itu, ketika kita menggunakan perahu motor menuju ke tengah laut, kita tidak benar-benar ’tiba’ di garis horison itu. Segigih apapun kita mengejar garis horison itu, tidak akan mampu untuk ’menangkapnya’. Sebab, setiap kali kita bergerak mendekat kepadanya, setiap kali itu pula dia bergerak menjauh.
Jangan-jangan, hidup juga demikian. Apa yang kita kira sebagai garis ujung dunia, ternyata bukanlah ujung dunia yang sesungguhnya. Melainkan hanyalah titik maksimal daya pandang kita. Karena itu, apa yang kita kira sebagai garis ujung optimisme kehidupan itu bukanlah ujung optimisme hidup yang sesungguhnya. Sebab setelah kita mencapai ’batas’ yang kita lihat itu, kita bisa menemukan wilayah lain yang terbentang diantara diri kita, dengan garis horison baru. Walhasil, boleh jadi kesempatan yang kita miliki dalam hidup itu tidaklah sebatas dari ’apa yang bisa kita lihat’ dari titik tempat kita berdiri ini. Sebab, dibelakang garis horison itu; terhampar kesempatan lain yang begitu luas.
Garis horison, adalah pembatas antara wilayah yang bisa kita lihat, dengan wilayah yang tidak bisa kita lihat. Kita dapat dengan leluasa menjelajah wilayah yang bisa kita lihat. Dan kalau kita bergerak mendekati garis horison itu, maka kita akan mampu untuk melihat wilayah lain yang sebelumnya tidak terlihat. Barangkali, hidup kita juga demikian. Meskipun kita sering dibatasi oleh sempitnya daya pandang kita; namun, ketika kita menjalani hidup ini dengan sungguh-sungguh. Lalu kita bergerak maju untuk mengeksplorasi inci-demi inci wilayah itu. Ternyata, garis batas itu tidak benar-benar ada. Walhasil, ketika kita secara konsisten bergerak maju menjalani hidup; hidup kita sama sekali tidak dibatasi oleh garis horison itu. Karena, ketika kita mendekatinya, sang garis bergeser menjauh. Seolah dia memberikan ruang yang lebih luas lagi kepada kita. Untuk terus menjelajah, tanpa mengenal lelah.
Bayangkan seandainya ketakutan kita akan keterbatasan pandangan itu menjadikan kita terdiam. Maka, jangkauan kita tidak akan pernah bertambah. Bahkan mungkin, kita akan dikurung oleh pesimisme dan ketakutan-ketakuan semu. Sebaliknya, jika kita bersedia menjalani hidup ini dengan keyakinan bahwa dunia kita sangatlah luas, maka bukan saja kita akan terbebas dari rasa was-was atas keserbaterbatasan yang ada. Lebih dari itu, kita bisa bersahabat. Bermain. Dan bercengkrama dengan garis horison itu. Ketika kita mengejarnya, dia akan berlari. Sehingga, tanpa kita sadari, kita sudah menjelajah jauh sekali. Dan dititik ini, kita akan menemukan; betapa rahmat Tuhan itu terhampar dengan teramat sangat luas. Dan semoga kiranya Dia, gembira melihat kita yang dengan sukacita bersedia menjalani fitrahnya.
Catatan Kaki:
Dengan selera humornya yang tinggi, garis horison menyembunyikan masa depan kita dibelakangnya; sebagai teka-teki untuk terus-menerus dieksplorasi
