Search This Blog

Friday, 25 February 2011

P1 Dissasembly

P1 Dipretheli

Sekedar sharing ato bisa sebagai tutorial bagi yg punya Elena untuk bongkar pasang bagian2nya.

Berikut merupakan beberapa alasan saya sehingga nekat mau ngebongkar sendiri si Elena.

Kurang responsifnya beberapa tombol seperti, jog dial, back key, fast port.
Penasaran (ini alasan terbesar)

Peralatan utama:
Buku panduan bongkar pasang kusus P1.
Obeng torx
Contact cleaner
Plectrum (bisa diganti pake klip plastik asal kuat).
Cemilan (wajib buat nunggu fast port kering)

Waktu pelaksanaan : minggu, 7 Juni 2009
Dis-assembly time : 30 menit
Re-assembly time : 20 menit
Break time : 1 hour for snack and hot tea.

Pas jam 3 sore saya mulai ngebongkar P1, dimana peralatan sudah lengkap seperti yg telah disebutkan. Langsung saja mulai seperti arahan buku panduan, yaitu untuk bag belakang (antenna lid), setelah buka tutup battery, ngeluarin batt, lepas 3 baut (+) yg ada. Setelah itu menggunakan plectrum, dibuka pinggiran casing dari ujung bawah sampe ujung satunya.
Pas ngebuka bag belakang,,masih keliatan lapisan tipis cairan parfum yg dulu sempat ngebasahin P1ku.
Agak susah melepas casingnya karena masih ada bawaan lem dari sononya.

Front panel
Nah ini yg paling susah aku lakuin, hampir ¼ waktu ngebongkar habis untuk ngelepas bag ini. Ada 2 baut bintang di bag atas kanan kiri, dan harus ada sedikit aksi untuk melepas kait yg ada di sekeliling panel depan (bag dalam), namun kait utama cuman ada 3 di atas dan samping kanan kiri. Bener kata bro Kupret, susah bukanya.

Keyboard
Setelah bisa ngelepas front panel, baru keliatan keyboard layout beserta 2 baut bintang buat dilepas. Dari sini kayaknya dah lancar buat ngelepas bag2 nya satu persatu.
Tapi sedikit hati2 untuk melepas kabel flex keyboard dari konektornya.

LCD
Hanya perlu melepas kabel flex antara lcd dengan board.

PCBA
Disini ada 4 baut (+) yg perlu dilepas (dibuku petunjuk tertulis 5 baut, dicari2 cuman nemu 4 baut). Pake bantuan plectrum trus tarik ke kanan untuk melepasnya, jangan tarik ke atas karena bakalan nyanthol sama jog dialnya.

Selebihnya saya cuman ngelepas system connector (fast port), untuk bag2 lainnya (camera, antenna, mic, speaker, vibrator, liquid intrusion indicator, etc) tidak saya utak-atik. Setelah bisa lepas system connector,,,baru deh contact cleaner beraksi, langsung saya hajar (baca: semprot) habis-habisan fast portnya biar ilang “kotoran”nya, namun sayang karena contact cleaner yg bisa saya dapatkan bukan yg jenis cepet kering,,jadi agak lama nunggu kering (padahal cuman kepake 3 kali semprot, tau gitu minjem aja di toko…hi..4x). Tapi ada baiknya juga untuk rehat bbrp saat buat solat ashar.


Fast port


Contact cleaner


Setelah istirahat, baru di cek bag2 lain yg bisa dijangkau, dalam hal ini,,jog dial spt gbr dibawah.


Keliatan kan kotoran2nya,,cuman perlu dibersihin pake kuas yg kecil,,,insyaallah bakalan responsif lagi.

Sempet juga ngganti screen guard lama yg dah baret2 pake screen guardnya K810 yg lebih luas areanya,,namun sayang kemaren salah beli yg K800, jadi lebarnya kurang bbrp millimeter. Sempet rada ngeri juga ngeliat lcd touchscreen yg keliatan tebel,,bisa kebayang kalo rusak berapa duit nggantinya.

Gambar keseluruhan bag2 Elena yg berhasil di bongkar.


Setelah yakin dah kering fast portnya, dan cukup puas ngeliat2 bagian lain, baru deh di pasang kembali semua bagian2nya.

Akhir kata, semua bagian bisa kembali ke tempatnya masing2 dan setelah dinyalakan,,,Alhamdulillah, nggak ada kendala, setidaknya sampe saat ini. Rencana mo ditest semua aplikasi dan fungsinya yg kurang lebih butuh waktu sampe seminggu.
Malahan pas dinyalain, sempet dapet sms masuk dari adikku, sempet shock ngeliat isinya berita ttg kecelakaan sepupuku, sempet aq bales, malah bikin bingung adikku, ternyata tanggalnya ngereset jadi awal taun 2008.


Hasil : Puas secara overall dengan beberapa catatan berikut ini.
Fastport, lancar jaya…langsung cespleng begitu colokan handsfree masuk,,nggak perlu lagi goyang2 sedikit.
Jog Dial -> semakin responsif
Back key -> masih sama aja dengan yg dulu.
Layar -> kinclong karena dah ganti screen guard baru.
Casing depan bag samping agak terkoyak sedikit, namun tidak apa karena memang rencana mo ganti casing, ato mo di painting dengan warna baru untuk poyek ke depannya.
Kepuasan bathin -> puas banget deeeh….!

Friday, 18 February 2011

Notepal Infinite - Gold version - review

Assalamualaikum wr wb

Mencoba untuk membuat review singkat tentang produk Coolermaster, kususnya seri Notepal Gold yg baru bbrp minggu dibeli.

Berikut ini beberapa poto bersama laptop Acer timeline 4810TZ ku.




Tampak atas


Tampak samping kiri, masih ada sisa ruang untuk laptop 14" widescreen.




Zoom-in port usb, input/output port




Tampak belakang yg nampak port usb, input, output dan tombol start/stop


Tampak samping kanan yg masih keliatan sisa ruangnya


Secara keseluruhan sangat nyaman dipake untuk pangkuan laptop mengingat selama ini kalo laptop dipangku akan terasa kurang nyaman karena panasnya (walopun menurut sensor,,,max cuman 50deg aja).


Terdapat 3 tingkat putaran kipas sesuai kebutuhan tapi menurut pengalaman,,di tingkat paling kecil aja sudah cukup untuk mereduksi sekitar 5 deg C, dengan tingkat kebisingan yg nyaris tidak kedengaran (kecuali di malam yg sunyi dan geeelap ini,,,ups,,koq jadi nyanyi....).
Pada tingkat putaran medium, sangat terasa penurunan panasnya yg sampai 10 an derajat C. Dan terakhir pada tingkat putaran maksimum,,walaupun belum pernah di test (maklum jarang ng-game), ane yakin bisa sampe 17 derajat penurunan suhunya sesuai klaim promonya. Tentu saja konsekuensinya pada kebisingan yg agak kentara daripada tingkat putaran dibawahnya. Namun demikian masih lebih senyap dibandingin cooler pad portable ku yg semacam kaki kepiting itu loo...!
Skrinsut penurunan suhunya menyusul,,,belum nemu aplikasi buat sensor suhu yg mumpuni. Sementara masih ngandelin Everest ultimate aja.


Tampak atas apa adanya


Dibawah port2, terdapat cekungan untuk melipat kabel ke sebelah kanan port usb laptop agar lebih rapi.


Pada tipe Infinite-4 port usb, bagian ini menjadi dudukan 3 port usb tambahan lagi.


To be continued

Friday, 4 February 2011

GPS on My Sierra 885

Setelah beberapa bulan make nih modem,,,ternyata bener2 bisa dipake gps nya,,cuman saja belum dipasang petanya,,,jadi belum optimal...
Dapet ngelock 6 satelit bahkan...


Bener2 top deh nih modem,,,,sampe sekarang masih tokcer buat internetan nonstop lebih dari 10jam...

Tuesday, 30 November 2010

Kisah amplop uang diatas meja

Suatu saat Pak Zubair mendapatkan Rezeki yang banyak, lebih dari kebutuhan sehari-hari keluarga mereka. Maka, beliau meletakkan rezeki itu di atas meja. 

"Pak, mengapa uang begitu banyak diletakkan di atas meja?" Tanya Bu Dyah, istrinya.

"Itu bukan rezeki kita, Bu. Semoga nanti diambil oleh pemiliknya." Kata Pak Zubair tenang. Beliau melanjutkan kesibukannya, demikian pula Bu Dyah yang telah cukup dengan keterangan Pak Zubair. 

Maka ketika hari belum menjelang siang, datanglah salah seorang tetangga Pak Zubair, seorang pengemudi becak. "Assalamu'alaikum Pak Zubair..., tolong... tolong saya Pak...!"

"Wa'alaikumussalam. monggo Pak, lenggah rumiyen (silahkan Pak, mari duduk dulu). Apa yang bisa dibantu, Pak?"

"Saya... tidak punya uang untuk menebus anak saya dari rumah sakit, Pak."

Dengan senyum menenangkan, Pak Zubair mengambil uang yang sedari tadi pagi tergeletak di atas meja. Utuh dengan amplopnya. "Yang empunya rezeki sudah mengambil haknya, Bu." Bisik Pa Zubair kepada Bu Dyah 

--------------------------------------------------------------------

Subhanalloh!! Demikian salah satu fragmen yang ada di buku " Bukan di Negeri Dongeng". 
Untuk judul "Rezeki Milik Siapa?" ditulis oleh Izzatul Jannah dari penuturan Bu Dyah istri Pak Zubair Syafawi, yang ketika itu menjadi Aleg DPRD Tingkat I Jateng.

Kisah true story yang begitu menginspirasi. Mampukah kita menirunya

 

 

Monday, 17 May 2010

Cacatnya Wanita Penghuni Dua Surga

Dapet dari milis alumni yg subhanallah bagusnya ceritanya….

 

Hari ini jam 8:14

Dulu, saat masih kuliah S.1 di Jurusan Hadits, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo ia pernah ditawarkan dengan seorang mahasiswi oleh temannya yang telah menikah. Tapi saat itu ia menolak tawaran tersebut. Obsesinya untuk menyelesaikan S.2 lebih kuat mengalahkan keinginan untuk menikah. Namun kini, ia merasa dirinya harus segera menyempurnakan separuh agamanya. Ia membutuhkan seorang pendamping yang menjadi tempatnya berlabuh dan menumpahkan berbagai cerita dan gelisah jiwanya. Apalagi desakan dari Ibunya membuatnya tidak lagi bisa berdiam diri.

Ia sendiri heran, kenapa dorongan untuk menikah serasa kuat menyesak di rongga dadanya. Apakah saatnya telah tiba? Ia mencoba untuk banyak berpuasa, tapi puasa itu seakan tak mampu menundukkan gejolak itu. Berat. Hampir setiap malam ia menangis. Mengadukan perasaannya pada Sang Pencipta. Menumpahkan segala sesak di dada. Ia berdoa dalam tahajudnya yang panjang. Mengharap belas kasih dan curahan rahmat dari Sang Pemilik Jiwa.

"Selamat ya Fuad atas prestasi yang kamu raih dalam lomba Jaizah Dubes kemaren. Kapan jadi berangkat ke Australia?" Sapa Ustadz Jalal pada Fuad ketika Fuad berkunjung ke rumahnya.
"Insya Allah tanggal 14 Juli nanti, Ustadz."
"Insya Allah, semoga urusannya lancar dan perjalanan kamu diberkahi Allah."
"Amin, syukran doanya Ustadz."
"Sama-sama akhi. Apa kesibukan kamu sekarang?"
"Fokus merampungkan Tesis S.2. Saya punya target tahun depan sudah bisa di-munaqasyahkan, insya Allah."
"Insya Allah, akhi. Saya kagum dengan semangat dan kegigihanmu menuntut ilmu. Dalam usia yang masih muda, kamu akan menyelesaikan S.2-mu."
"Biasa saja Ustadz. Belum sepadan dengan prestasi yang pernah Ustadz raih," balas Fuad penuh senyum.

"Kamu terlalu merendah Akhi, saya senang bisa mengenalmu. Jarang lho di Al-Azhar ada mahasiswa yang bisa menyelesaikan S.2-nya pada usia 26 tahun."
"Seharusnya saya yang merasa senang bisa berkenalan dengan kandidat Doktor Jurusan Tafsir di Universitas Al-Azhar," jawab Fuad tak mau kalah.
"Ah, kamu terlalu berlebihan memuji saya akhi. Begini Akhi, mungkin lansung saja ya pada inti pembicaraan. Saya diberi amanah oleh kakak saya di Indonesia untuk mencarikan calon suami untuk anaknya. Selama ini saya mengamati mahasiswa-mahasiswa yang saya kenal termasuk akhi. Setelah saya coba pikirkan dan bicarakan dengan istri saya, saya melihat akhi orang yang tepat."
"Afwan Ustadz, saya kira Ustadz keliru dan terlalu berlebihan menilai saya. Saya hanya orang yang biasa saja."

"Tidak Akhi. Penilaian ini bukan asal-asalan. Tapi setelah sekian lama saya mengamati kehidupan Akhi. Kalau akhi berminat dan telah punya keinginan untuk menikah, kita bisa bicarakan lebih lanjut."
"Apakah calon yang wanitanya di Indonesia Ustadz?"
"Tidak, dia kuliah di Jurusan Syariah Islamiyah, tingkat tiga."
"Apa saya mengenalnya Ustadz?"
"Mungkin tidak. Sangat beda dengan akhi, kalau akhi seorang aktivis dia sebaliknya. Tidak banyak yang mengenalnya."
"Apa dia sendiri telah siap menikah Ustadz?"
"Insya Allah, kalau dia gak ada masalah. Ia selalu menuruti keinginan orang tuanya. Dia anak yang penurut. Kalau akhi bagaimana, apa sudah punya calon?"
"Belum Ustadz."
"Berarti pas sekali," tanggap Ustadz Jalal penuh riang dan menunjukkan wajah cerah.
"Tapi Ustadz, saya butuh waktu untuk mencerna dan mempertimbangkannya. Saya belum bisa memberi jawaban sekarang. Saya butuh waktu seminggu untuk memberi jawaban pada Ustadz."
"Tidak mengapa akhi. Saya bisa maklum. Silahkan ditimbang dulu dengan matang. Jika akhi menyetujui saya sangat senang sekali. Namun bila sebaliknya, tidak mengapa, saya akan mencoba menawarkan pada yang lain."
"Insya Allah Ustadz, akan saya istikharahkan pada Allah, semoga Allah menunjukkan yang terbaik, amin."
"Amin."

"Alhamdulillah, akhirnya amanah ini tersampaikan juga. Saya sangat senang sekali. Selamat Fuad kamu akan menikah sebentar lagi."
"Doanya Ustadz, semoga saya bisa mengemban amanah ini dengan baik."
"Amin, semoga Allah selalu memberkahi kalian nantinya, amin. Fuad, ada satu hal yang sangat penting untuk kamu ketahui, calon istrimu itu cacat."

Fuad sangat terkejut.
"Cacat maksud Ustadz bagaimana?"
"Cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua tangan dan kedua kaki. Terkadang sering berbicara sendiri dan juga sering menangis tanpa sebab. Bagaimana, apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?"
Fuad diam sejenak. Ia terlihat memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian ia menjawab.

"Insya Allah, saya siap Ustadz," jawabnya dengan mantap.
"Ini keputusanmu?"
"Ini bukan keputusan saya Ustadz, tapi keputusan Allah. Saya telah meng-istikharahkan dan saya rasakan hati saya mantap dan teguh dengan pilihan ini. Saya yakin Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk saya."

"Apa kamu tidak menyesal dengan pilihan yang telah kamu ambil?"
"Tidak Ustadz, sama sekali tidak. Bagi saya, pilihan Allah lebih baik dan mulia. Walau secara zahir itu berat dan mungkin menyakitkan, tapi saya rela dan ikhlas. Insya Allah ada pahala dan kebaikan disana menanti. Saya teringat ketika Nabi Ibrahim harus dilemparkan ke dalam api, saat itu beliau tidak gusar dan tidak takut sedikitpun, karena Allah selalu bersama hamba-Nya yang berserah pada-Nya. Atau ketika Nabi Ibrahim harus meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir yang tandus demi memenuhi seruan Allah."

"Saya kagum dan bangga padamu Fuad. Sebenarnya sejak awal saya ingin menceritakan padamu kondisi calonmu itu. Tapi, saat itu saya lupa untuk menyampaikannya. Maafkan atas kealpaan saya tersebut."
"Tidak mengapa Ustadz, semuanya sudah terjadi, dan sebagai seorang hamba Allah kita wajib menerima kehendak takdir. Barangkali dalam takdir Allah saya harus menikah dengan seorang wanita yang cacat. Saya ikhlas Ustadz. Mungkin disana pula sumber pahala saya dari Allah. Berkhidmah pada hamba-Nya yang cacat."

"Tapi apakah akhi tidak mencoba mencari wanita lain yang lebih baik dan sempurna?"
"Sebenarnya pada saat Ustdaz menawarkan anak dari kakak Ustadz pada saya, dua hari sebelumnya saya juga ditawarlan oleh teman saya, bahwa teman istrinya juga lagi mencari calon suami. Dan sebelumnya juga ada tawaran. Karena itu saya meminta pada Ustadz agar memberi saya waktu satu minggu untuk istikharah. Karena ada tiga wanita yang akan saya istikharahkan. Saya perlu waktu yang lama untuk memikirkan dan memutuskan dengan matang."

"O begitu, saya baru paham. Kekuatan apa lagi yang menguatkan langkahmu untuk menjatuhkan pilihan pada anak kakak saya tersebut?"
"Istikharah dan mimpi kedua orang tua saya Ustadz. Kami mengalami mimpi yang sama dan merasakan ketentraman serta kemantapan hati yang sama."
"Saya kagum padamu akhi, saya merasa tidak salah memilih dan menilai selama ini. Akhi adalah orang yang tepat. Semoga Allah merahmati hidupmu dan keluarga yang akan akhi bina nantinya, amin," ucap Ustadz Jalal dengan wajah berbinar-binar.


Satu minggu berlalu setelah pernikahan, Fuad menemui Ustadz Jalal Fakhruddin di rumahnya, di Bawwabah Tiga.

"Bagaimana kabarnya Fuad? Kamu terlihat sangat cerah dan lebih segar sekarang."
"Alhamdulillah Ustadz. Segala puji bagi Allah atas nikmat yang Ia curahkan."

"Ada yang ingin saya tanyakan tentang cerita Ustadz kemaren. Ustadz mengatakan bahwa istri saya cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua kaki dan tangan. Sering berbicara sendiri dan kadang suka menangis tanpa sebab. Saya telah mengetahui dua jawaban yang terakhir. Saya menyadari bahwa istri saya memang sering terlihat seolah berbicara sendiri. Awalnya saya heran. Tapi setelah saya tanyakan dan mendengar dari dekat, ia tengah berzikir, menyebut nama Allah, terkadang bershalawat pada Rasulullah, dan membaca al-Quran. Saya perhatikan ia melakukannya setiap hari, setiap waktu, tanpa henti. Sewaktu menyapu rumah, mencuci piring, menjemur pakaian, memasak, lisannya seolah tak pernah berhenti berzikir. Begitu juga saat bepergian ke luar rumah. Adapun yang Ustadz katakan, bahwa ia terkadang sering menangis tanpa sebab, saya hampir mendapati itu tiap hari juga. Ketika saya tanyakan, ia menjawab bahwa ia teringat akan dosa-dosanya pada Allah, takut jika amalnya tidak diterima, teringat azab dalam kubur, mahsyar, hari penghisaban, shirat dan siksa neraka. Jika teringat akan hal itu air matanya sering meleleh. Itulah yang saya ketahui. Sedangkan cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua tangan serta kaki itu, saya tidak mendapatkan. Saya perhatikan semuanya baik dan sehat."

"Akhi Fuad, alhamdulillah akhi telah menemukan jawabannya. Sedangkan maksud saya cacat pendengaran adalah, telinganya tidak pernah mendengarkan perkataan yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Tidak pernah mendengarkan musik dan segala lagu-lagu yang merusak iman dan jiwa. Sesungguhnya yang selalu menjadi penghibur dirinya adalah al-Quran dan nasehat-nasehat para ulama. Cacat penglihatan adalah tidak pernah melihat pada yang haram, seperti menonton film yang di dalamnya syahwat diumbar, bisa saya katakan, matanya selalu terjaga dari melihat segala hal yang mengudang dosa dan maksiat. Dan cacat lisan adalah ia tidak pernah berinteraksi dengan laki-laki, baik melalui sms, telpon, chating di YM, di FB dan seterusnya. Ia sangat menjaga hubungan dengan lawan jenis. Lisannya terjaga dari komunikasi dengan lawan jenis. Adapun cacat tangan adalah tidak pernah berbuat yang nista dan tercela. Sedangkan cacat kaki adalah selalu terjaga dari menempuh tempat-tempat maksiat. Selama di Mesir kakinya hanya melangkah untuk ke mesjid, majlis-majlis ilmu, bersilaturahmi, tidak pernah pergi ke warnet, mengikuti acara-acara yang di dalamnya bercampur laki-laki dan perempuan. Begitulah akhi, penjelasan singkatnya. Nanti setelah hidup lebih lama dengannya akhi akan banyak mengetahui tentang dirinya."

"Saya bersyukur Ustadz, inilah rupanya rahasia di balik petuntuk yang Allah berikan, dan hasil dari istikharah saya selama ini dan juga mimpi saya. Saya melihat dalam mimpi sebuah cahaya yang begitu terang, meneduhkan, menyejukkan, dan beraroma harum seperti kasturi."

Air mata Fuad menetes penuh bahagia, ia lalu bersujud syukur. Ia telah dikaruniai seorang wanita sorga yang dihadirkan Allah ke bumi. Wanita yang selalu menjadi buah bibir penduduk langit karena ketaatannya. Ia teringat dengan hadits Rasulullah. Walau di bumi istrinya tidak dikenal banyak orang tapi di langit, ia yakin istrinya selalu disebut dan didoakan oleh para malaikat

 

 

Kind and regards,

 

Yulistana PN, Mr

Estimating Dept

PT PROFAB INDONESIA

Jl. Bawal Kav. V, Batu Merah

Batam 29432

Ph           : +62778 413250

Fax         : +62778 413260

Email     : yulistana.negara@profab-group.com

 

Sunday, 16 May 2010

Apakah Anda Berbakat Menjadi Orang Kaya?

Apakah Anda Berbakat Menjadi Orang Kaya?

Maaf, judul bagian ini bukanlah iklan sebuah pelatihan untuk menjadikan anda orang kaya. Selain karena saya tidak memiliki program pelatihan semacam itu, saya juga tidak tahu bagaimana caranya membuat seseorang menjadi kaya. Sampai saat ini saya baru memiliki kesempatan untuk sama-sama mengajak merenungkan tentang bagaimana cara kita memandang kekayaan. Konon, dari hal sederhana semacam ini saja sudah bisa ketahuan apakah seseorang berbakat untuk menjadi manusia kaya atau tidak. Makanya, Anda bisa mengerti mengapa sampai sekarang saya belum menjadi orang kaya.

Saya baru selesai melakukan aktivitas di fitness center. Setelah membersihkan diri, saya menuju ke loby untuk menanti istri saya yang menjemput. Di loby itu terdapat sebuah kursi panjang yang bisa diduduki oleh tiga orang. Saya mendapati seorang Bapak tengah duduk disana. Setelah mengucapkan permisi, saya duduk disampingnya. Lalu membuka laptop kembali. ”Wah, kerja terus, nih....” beliau menyapa ramah begitu layar notebook saya menyala. Saya bilang, ”Sambil menunggu istri saya memjemput, Pak.” begitu saya menjawab.

”Bekerja dalam bidang apa?” lanjutnya. Sesaat kemudian beliau mengetahui kalau saya menjalani profesi sebagai penulis jika sedang tidak ada tugas untuk memfasilitasi program pelatihan.

”Oh, Anda seorang trainer, ya?”
Saya mengangguk. ”Jika Bapak lebih senang menyebutnya demikian....”
”Motivator, begitu?” orang ini menjadi semakin menyenangkan.
”Nah, kalau itu bukan.....” Saya bilang. ”Soalnya saya tidak tahu bagaimana cara memotivasi orang.” saya melanjutkan ”Saya sendiri masih sangat membutuhkan motivasi.”

”Tapi, buku-buku Anda kelihatannya menunjukkan itu.” Seseorang yang penuh perhatian.
Saya menjelaskan kalau memang kadang-kadang saya diminta untuk membawakan topik training semacam itu. Jika saya mampu, ya ayo saja. Tetapi sebenarnya program utama yang saya bawakan berhubungan dengan Management, Leadership, Communication, dan Productivity Enhancement. Untuk memperkuat itu, lalu saya menyerahkan kartu nama. Ketika beliau membalas dengan sebuah kartu nama juga, saya jadi tahu kalau ternyata beliau adalah seorang trainer juga. Karena merasa diri lebih muda, secara otomatis saya memposisikan diri untuk lebih mendengar dari beliau. Siapa tahu dari pertemuan ini saya bisa belajar suatu ilmu. Benar saja. Tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan insight dari beliau. Sebuah ciri khas trainer yang handal.

”Saya punya sebuah teka-teki,” katanya. ”Tolong Mas Dadang jawab ya.” Saya mengiyakan, selama saya mampu untuk melakukannya. Lalu pada selembar kertas kecil beliau menuliskan tujuh kata. Berani, Kaya, Kasih, Memberi, Syukur, Menerima, Sehat. Kira-kira begitulah. Kemudian beliau meminta saya untuk mengurutkan berdasarkan prioritas diri saya sendiri. Nomor satu prioritas tertinggi, sedangkan nomor 7 untuk prioritas terendah. Setelah memberikan skor berdasarkan prioritas pribadi, saya mengembalikan kertas itu kepadanya.

”Mas Dadang,” katanya. ”Berdasarkan penelitian, sekitar sembilan puluh persen orang yang ditanya dengan daftar ini menempatkan kata ’kaya’ pada urutan yang paling rendah. Dinomor 6 atau nomor 7.” katanya. Seketika itu juga saya menyadari kalau kata ’kaya’ menjadi prioritas saya yang nomor 6. Berarti saya termasuk kebanyakan orang, dan saya segera mengerti konsekuensinya. ”Saya pernah membaca buku,” lanjut beliau. ”Dalam buku itu dijelaskan seandainya seluruh uang yang ada di dunia ini dikumpulkan lalu dibagi rata kepada semua orang maka setiap orang akan kebagian sekitar 25 Milyar.” Saya mengangguk-anggukan kepala.

Lalu beliau melanjutkan, ”Namun setahun kemudian, sekitar 90% uang itu akan kembali dimiliki oleh 5% orang. Anda mengerti maksudnya?” Hmmh, sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Rupanya itulah kaitan antara meletakan kata ’kaya’ pada prioritas rendah dengan kepemilikikan uang. Mungkin itu juga alasannnya mengapa sampai sekarang saya belum kaya juga, haha.

Bagaimanapun juga, segala sesuatunya bisa masuk akal. Mari kita lupakan soal seerapa akuratnya angka-angka yang tadi kita sebutkan. Tapi, fakta bahwa saya menempatkan kata ’kaya’ siurutan ke-6 dalam prioritas hidup menegaskan jika saya tidak mungkin mengalokasikan sebagian besar potensi dan kapasitas yang saya miliki untuk mencari uang. Jika saya tidak mengerahkan seluruh atau sebagian besar daya hidup untuk mencari uang, mana mungkin saya bisa mewujudkan pencapain tertinggi dalam bentuk kekayaan? Begitulah logikanya. Anda pun pasti demikian bukan? Jadi, pelajaran penting yang saya dapatkan dari pertemuan ini berbunyi, ”Kalau kamu mau kaya, jadikanlah kata ’kaya’ sebagai prioritas hidupmu.”

Apakah saya tidak ingin kaya? Sejujurnya saya tidak tahu. Soalnya yang melekat dalam diri saya dari dulu sederhana saja, yaitu ingin serba berkecukupan. Jika saya ingin ini uang saya cukup, jika ingin itu juga cukup. Padahal, banyak hal yang ingin saya lakukan dalam hidup. Sehingga untuk mewujudkannya tidaklah mungkin kecuali jika saya memiliki dana yang cukup. Apakah itu termasuk ingin kaya? Entahlah. Yang jelas, sampai sekarangpun jika saya harus memilih ’kaya’ atau ’syukur’ tetap saja saya memilih syukur diurutan tertinggi. Soalnya, setiap kali saya memperhatikan jemari tangan saya memijit key board laptop disana saya melihat keajaiban. Saya tidak bisa membayangkan jika Tuhan mengurangi jari-jari tangan ini. Saya tidak tahu lagi mesti bagaimana menuangkan gagasan tanpa jemari tangan.

Lalu saya membayangkan kedua mata ini. Saya belum menemukan harga yang tepat seandainya boleh ditukar dengan sejumlah uang. Jantung ini. Sepasang telinga. Kaki, paru-paru dan segala sesuatu yang Tuhan lekatkan didalam diri saya. Istri, anak-anak, ayah dan ibu kami. Semuanya. Jika saya harus mendahulukan ’kaya’ dari ’syukur’ dan ’kasih’ maka itu bertentangan dengan panggilan hati saya. Saya beruntung hari ini bisa bertemu dengan kenalan baru itu. Sebab dari pertemuan itu saya jadi semakin menyadari betapa banyaknya hal yang mesti saya syukuri.

Ketika kendaraan yang menjemput saya tiba, saya segera pamit kepada beliau. Sebelum berpisah, saya mengatakan sesuatu yang sungguh-sungguh saya rasakan dihari itu. Saya bilang,”Saya belum kaya, Pak. Masih sering pusing memikirkan bagaimana cara menafkahi keluarga. Tapi entah mengapa, sewaktu saya sembahyang Ashar tadi saya kok merasa seperti orang yang sangat kaya.” Kami bersalaman, lalu berpisah dengan kesepakatan untuk terus menjalin silaturahmi.

Saya terkenang Firman Tuhan yang disampaikan melalui Nabi Suci. ”Jika kamu bersyukur, maka akan Aku tambah nikmatku lebih banyak lagi.” demikian kata Tuhan. ”Tetapi jika kamu tidak bersyukur, sesungguhnya siksaanku sangatlah pedih.” Sekarang saya tahu bagaimana caranya untuk kaya hanya dengan dua langkah sederhana. Langkah pertama berusaha, langkah kedua bersyukur. Apapun yang kita dapatkan dari hasil ikhtiar merupakan modal untuk memperoleh kepemilikan berikutnya seperti yang Tuhan janjikan. Sesuai janji Tuhan, ikhtiar tanpa henti akan mengantarkan kita kepada sebuah pencapaian. Sedang rasa syukur yang terus menerus menjamin tambahan dari Tuhan. Dengan demikian, kekayaan yang kita dapatkan nanti bukan hanya banyak dalam hal jumlah. Namun nilainya juga penuh dengan berkah.

Catatan Kaki:
Sangatlah penting untuk menjadi orang kaya dengan harta dan kekayaan yang penuh berkah. Namun berkah, tetap lebih bernilai daripada jumlah

Sunday, 4 April 2010

Apa Bedanya Motivasi Dengan Inspirasi?

Kita tahu bahwa motivasi dan inspirasi merupakan dua kosa kata yang sangat populer. Lebih dari itu saya menyadari bahwa mungkin saja ada sebagian dari anda yang merasa bahwa tidak ada perlunya mencari-cari perbedaan diantara kedua hal itu. Tetapi, bukankah kita sering dikelirukan oleh pemahaman yang campur aduk? Padahal, para ahli NLP tidak bosan-bosannya menekankan pentingnya menempatkan diri dalam proses berbahasa. Bahkan, di negara-negara yang penerapannya sudah lebih maju sedang seru himbauan untuk sungguh-sungguh mengembalikan huruf ’L’ pada tempatnya. Sebab, disatu sisi kita percaya bahwa ’Lingusitic’ merupakan faktor kunci dalam aplikasi disiplin ilmu itu. Namun disisi lain sering kali kita abaikan. Sekarang, saya ingin mengajak anda untuk menelisik karakteristik dari Motivasi dan Inspirasi. Anda tidak keberatan, bukan?



Beberapa waktu yang lalu saya diminta seorang sahabat untuk menjadi narasumber dalam sebuah seminar untuk umum. Sejauh yang saya ingat, saya sudah mengatakan kepadanya bahwa saya tidak merasa nyaman jika disebut sebagai ’motivator’. Padahal, lazimnya itu merupakan sebuah sebutan yang memiliki nilai jual. Paling tidak, masyarakat umum sudah sama-sama mafhum tentang apa yang dimaksud dengan predikat itu. Apalagi dijaman seperti sekarang ini banyak orang yang gemar mencari motivasi. Makanya program-program motivasi selalu mendapat tempat di hati mereka. Dan sebutan itu tentu sangat cocok untuk disandingkan dalam materi promosinya. Ndilalah, ketika teman saya itu mengirimkan soft file brosurnya, saya tidak langsung membukanya karena saya merasa semuanya sudah berjalan sesuai dengan yang semestinya. Namun, ketika beberapa hari kemudian saya membuka emailnya; ternyata teman saya menempelkan embel-embel ’motivator’ dibelakang nama saya.



Sekarang saya sudah benar-benar mengacaukan pikiran anda. Tadi saya mengatakan tentang NLP yang mengajak kita untuk mengoptimalkan kemampuan berbahasa yang baik dalam proses komunikasi dan interaksi dengan orang lain. Tetapi, sekarang saya melanggar pakem dalam NLP itu sendiri yang disebut sebagai pacing and leading. Keengganan saya untuk menggunakan predikat itu jelas sekali menyalahi konsep pacing and leading. Sebab dalam konsep itu, kita dianjurkan untuk ’menyesuaikan diri dengan bahasa audience (pacing), baru kemudian kita memasukkan nilai-nilai yang ingin kita tanamkan (leading). Sedangkan saya dari awal sudah menjauhkan diri dari terminologi yang jelas-jelas paling mudah untuk dipahami oleh masyarakat umum.



Sekarang, ijinkan saya untuk mengajak anda berpijak kepada kenyataan. Dari mana anda memperoleh motivasi? Anda benar. Bahwa motivasi bisa bersumber dari luar, dan dari dalam diri kita sendiri. Faktanya memang demikian. Tetapi, motivasi yang datang dari sumber manakah yang sifatnya lestari; yang datang dari luar? Atau dari dalam diri anda sendiri?



Baiklah, untuk membantu menegaskan jawaban anda, saya akan menyampaikan sebuah ilustrasi. Ketika anda memasuki sebuah ruang pelatihan motivasi. Diruangan itu, seseorang yang anda kagumi, hormati, sukai, dan idolakan berbicara diatas pentas. Anda mendengarkan setiap kata yang beliau ucapkan. Anda tertawa ketika beliau menceritakan sebuah lelucon humoris. Anda ikut mencucurkan air mata ketika kata-katanya yang menyentuh hati membawa anda kepada kesadaran yang tinggi. Dan seketika itu pula anda bertekad; saya akan berubah. Kemudian, pada sore harinya; anda melangkah pergi meninggalkan ruang pelatihan itu. Keesokan harinya anda kembali tenggelam dalam rutinitas sebagaimana biasanya. Seminggu kemudian. Sebulan telah berjalan. Setahun. Waktu terus berputar. Masih adakah tekad dalam hati Anda itu?



Suatu ketika, anda melihat motivator yang anda idolakan itu di sebuah mall. Dari caranya memperlakukan kasir supermarket, anda merasa bahwa tindakannya bertolak belakang dengan kata-katanya. Atau, tiba-tiba saja anda mendengar kalau idola anda itu gagal mempertahankan bahtera rumah tangganya. Atau, digunjingkan terlibat dalam sebuah tindakan asusila. Bahkan, mungkin anda mendengarnya meninggal dengan dugaan bunuh diri. Semua yang anda dengar dan saksikan kemudian seolah menjadi anti klimaks dari seluruh kekaguman anda kepada seorang manusia. Sekarang, tubuh anda berperang dengan dirinya sendiri. Karena mata, telinga, rasa, dan setiap indera memiliki penilaiannya yang berbeda-beda tentang seseorang yang anda kira bisa memotivasi anda. Karena motivasi, sangat ditentukan oleh keteladan orang yang menyampaikannya.



Pada kesempatan lain. Anda menyadari bahwa Anda tidak bisa berharap banyak dari pekerjaan anda saat ini. Dengan posisi dan jabatan itu, anda tahu bahwa pendapatan anda tidak akan lagi bisa menutupi kebutuhan hidup keluarga. Anda tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya anak-anak anda jika nasib anda tidak berubah. Lalu, anda bertekad untuk bekerja sebaik-baiknya. Agar perusahaan melihat anda sebagai aset yang layak untuk dikembangkan dan diberi tanggungjawab yang lebih besar. Kemudian, Anda terus mengejar mimpi itu dengan sikap pantang menyerah. Dan akhirnya anda mendapatkan sebuah perbaikan. Ketika anda merasakan nikmatnya memperoleh perbaikan itu, anda kembali terdorong untuk menapak lebih tinggi. Bekerja lebih baik. Lebih rajin. Lebih ulet. Dan lebih produktif lagi. Anda mendapatkan hadiah lagi. Anda menapak lebih tinggi lagi. Begitu seterusnya. Sampai-sampai anda hampir tidak menyadari kapan harus berhenti. Karena sekarang, secara otomatis tubuh anda memotivasi dirinya sendiri.



Kedua cerita diatas itu hanya sekedar ilustrasi belaka. Namun, semoga itu bisa menegaskan bahwa tak seorang pun bisa menjadi motivator sejati bagi kita. Selain diri kita sendiri. Benar bahwa orang lain bisa memotivasi kita. Namun, kita juga mesti secara jujur melihat fakta bahwa orang itupun sama perlu motivasinya dengan kita. Jika Anda memerlukan motivasi. Saya juga sama. Begitu pula dengan mereka. Bagaimana mungkin orang yang membutuhkan motivasi seperti kita bisa memberikan motivasi sejati kepada orang lain? Sama seperti orang yang tidak punya duit tidak mungkin memberikan duit kepada orang lain. Seorang teman berkilah; motivasi itu beda dengan duit. Karena memotivasi orang tidak selalu harus dengan duit. Teman saya benar. Tetapi argumen itu tidak bisa meruntuhkan fakta bahwa motivasi yang datang dari diri sendiri itu lebih lestari. Faktanya, banyak orang yang kecewa karena terlampau banyak berharap kepada orang lain.



Sekarang ijinkan saya untuk membuka sebuah fakta lain. Ketika saya melihat teman saya yang berhasil dalam karirnya, saya terinspirasi oleh keberhasilannya. Ketika saya bertemu dengan seseorang yang sukses dalam bisnisnya, saya terinspirasi oleh kisah suksesnya. Ketika saya bertemu dengan penerima undian besar saya terinspirasi untuk berani mencoba sesuatu meski diliputi oleh ketidakpastian. Ketika melihat seseorang mengendarai Mercedes Benz, saya terinspirasi untuk mengimpikan suatu saat kelak memiliki kemampuan membeli mobil seperti itu. Dan, ketika saya menemukan bahwa orang-orang yang menginspirasi saya itu jatuh; penilaian saya kepada pribadi mereka sama sekali tidak berubah. Sementara kisah-kisahnya yang telah menginspirasi saya, tetap tinggal didalam hati sanubari saya. Karena inspirasi, tidak membeda-bedakan dari siapa datangnya.



Ketika saya melihat seekor anjing buang air sembarangan dihalaman rumah orang; saya terinspirasi untuk menghindari tindakan yang merugikan orang lain. Ketika saya melihat 2 tetangga yang rumahnya bersebelahan bertengkar, saya terinspirasi untuk menjadi tetangga yang baik bagi penghuni rumah disebelah kiri dan kanan. Ketika saya mendengar seorang koruptor diadili, saya terinspirasi untuk menjadi pegawai yang jujur. Ketika saya mendengar seseorang bercerai saya berdoa; Tuhan, ijinkan saya untuk terus mencintai istri yang telah Engkau pilihkan. Dan semoga dia memiliki hasrat yang sama. Agar kami bisa terus bergandeng tangan selamanya. Ketika saya melihat maling digebuki warga, saya terinspirasi untuk menghindari perbuatan serupa. Ketika pesawat televisi menayangkan rekaman penggerebekan kamar-kamar hotel yang digunakan pasangan-pasangan bukan muhrim, saya terinspirasi untuk berusaha menjaga kehormatan. Karena, inspirasi tidak membeda-bedakan antara yang baik dan yang buruk.



Sekarang, saya bisa melihat sebuah tirai tipis. Yang menjadi garis pemisah antara motivasi dengan inspirasi. Ternyata, begitu banyak perbedaan diantara keduanya. Sehingga jika kita bisa mengenali perbedaan-perbedaan itu, kita akan memahami; mengapa motivasi kita sering naik dan turun. Mengapa motivasi kita, sering berbunyi nyaring diruang-ruang training, tapi membisu dalam realitas hidup. Mari sekali lagi kita perhatikan beberapa perbedaan antara motivasi dan inspirasi.



Pertama, motivasi sangat ditentukan oleh siapa yang mengatakannya. Anda jarang termotivasi oleh orang yang gagal. Sebaliknya, kegagalan orang lain sering memberi kita inspirasi untuk menjadi orang yang berhasil.



Kedua, motivasi sangat ditentukan oleh keteladanan orang yang mengatakannya. Anda jarang bisa terus termotivasi oleh seseorang yang sudah ketahuan ’sifat aslinya’. Sebaliknya, ’sifat asli’ seseorang sering memberi kita inspirasi untuk terus belajar agar lama kelamaan kita bisa menjadi manusia yang mampu menyelaraskan antara perbuatan dan perkataan.



Ketiga, motivasi sering dimonopoli oleh bangsa manusia. Anda jarang termotivasi oleh comberan, kotoran cicak, ataupun bau pesing toilet di terminal-terminal kendaraan. Anda juga jarang termotivasi oleh kemacetan lalu lintas, tagihan listrik, ataupun kenaikan harga barang-barang keperluan rumah tangga. Dan Anda, pasti tidak termotivasi oleh lembar laporan potongan pajak jika belum benar-benar merasakan apa manfaatnya. Sebaliknya, semua itu bisa menginspirasi kita. Untuk mencari jalan agar kehidupan kita menjadi lebih baik dari hari ke hari. Terutama karena kita yakin. Bahwa ada kehidupan lain. Setelah kematian.


Catatan Kaki:

Kita bisa termotivasi oleh orang lain, atau diri kita sendiri. Tetapi, kita bisa terinspirasi oleh apapun yang kita temui, selama kita menjalani hidup sehari-hari.